Pulau Lombok, Pulau yang HOT – efek Nasi Puyung

sebelumnya saya mau minta maaf karena ke-nggak banget-an judul posting ini 😛

Maksud Hot disini bukan saya tujukan untuk banyaknya bule-bule yang berjemur di gili trawangan *ups*. tapi hot dalam artian PEDAS. Yep, Lombok dalam bahasa Jawa berarti Cabai. Dan seperti yang kita tau kalau buah yang warnanya cantik dan lucu menggemaskan ini rasanya pedas. Cocok dengan namanya, kuliner Lombok memang di dominasi dengan rasa pedas.

Contohnya, setiap hari ibu kost saya selalu membuat sambal yang rasanya luar biasa pedas, setidaknya bagi saya. Berhubung saya dibesarkan dengan masakan ibu saya dimana sambal adalah cabe merah keriting dan banyak tomat dan tentu saja pedesnya nggak nendang, sambal buatan ibu kost ini luarrrrr biasa memanaskan tubuh saya-errrr, tubuh bagian perut lebih tepatnya. Bukan hanya sambelnya saja, masakan yang normalnya gak pedas pun jadi pedas. Awalnya saya memang agak sulit menerima makanan “panas” ini untuk dicerna oleh tubuh saya. Tapi karena di kantin adanya masakan pedas-pedas saja ya mau nggak mau saya telan deh, daripada saya kelaparan. Untunglah ada ibu tiri di sini, embak kos saya yang cantik, baik hati dan pandai memasak yang sekarang memberi saya makan setiap hari dengan masakan-masakan Jawa hehehe…

Ngomong-ngomong pedas, walaupun saya tidak terlalu suka tapi sekarang terpaksa suka, saya selalu penasaran kalau mbak ira (mbak kos yang pandai masak tadi) dan ibu kos ngomongin nasi puyung. Kata Mbak Ira yang juga doyan makanan pedas, Nasi Puyung itu pedeeeeeesssss banget, tapi enak. Bikin megap-megap kepedasan, tapi pengen nyuap terus sampai akhirnya tanpa sadar piringmu sudah kosong.

Naaa, malam minggu kemarin saya berkesempatan menikmati hidangan asli Lombok yang legendaris ini langsung di tempat asalnya, di Puyung. Puyung terletak di Kabupaten Lombok Tengah, kira2 20menitan dari Mataram. Waktu itu saya diajak sama ibu kos sekeluarga ke Mataram untuk nemenin anaknya beli sepatu yang matching sama baju yang mau dipakai buat lomba model besoknya (saya masih susah percaya kalo di kota ini ada juga yang mengadakan lomba modelling, mungkin saya memang terlalu under estimate sama kota ini. my bad).  Aslinya sih saya males banget pergi2 gitu,  mana saya belum mandi. Saya hanya menginginkan kedamaian kala menyesap secangkir kopi Bali salah beli yang rasanya nggak spesial sambil main Plant versus Zombie untuk ke suwidakrolas kalinya demi nonton si sunflower nyanyi di ending adventure mode-nya. Mungkin sambil telepon pacar #eaaaaa. Tapi karena kultur Jawa saya yang orangnya nggak enakan kalo nolak, akhirnya saya mau deh.

Setelah sempat ketiduran dulu, mandi kilat, jilbab asal pakai yang masih ada bekas lipat2nya karena belum disetrika, saya pun duduk manis sambil nguap-nguap dikit di kursi tengah avanza birunya Bapak Kost. Kirain kita bakal ke Mall, soalnya kalau ke Mall kan saya bisa menghilang sendiri di toko buku cari buku yang sudah saya incar, atau makan pizza dengan pinggiran cheesy bites yang sudah saya idam-idamkan. Namun angan2 saya pupus sudah karena kami nggak ke mall. cuma di toko sepatu di sebuah jalan di cakranegara yang dekat sekali dengan TKP menghilangnya si avanza hitam. Rasanya sebel sekali kalo lewat situ. Pengen berhenti trus lempar jumroh dulu ke pohon di mana si avanza nangkring di bawahnya sebelum menghilang.

Sudah dapat sepatu kirain langsung pulang, ternyata mampir dulu ke 3second cari baju buat lomba itu lagi. blaaahhhh, ini mah bajunya anak-anak abege gaul. dan karena saya sudah menjadi wanita seutuhnya, a lovely lady, saya sama sekali nggak berminat masuk. akhirnya saya luntang-luntung di depan toko sambil memandang sekeliling dan hap, hinggap di warung sate sebelah. ini salah satu dari daftar makanan idaman saya selain pizza dan burger yang nggak saya temui di selong, sate ayam. waktu saya mau makan, dicegah sama ibu, kan habis ini mau ke Puyung. Hadooooohhh, laper berat saya. akhirnya untuk mengitik-itik weteng (sori nggak tau gimana nulisnya dalam EYD) saya dan mbak ira membeli jagung bakar rasa barbekyu dan keju di sebrang jalan. Lamaaaa kemudian acara belanja selesai. Pulang? Tentu tidak. Mampir dulu buat ngambil aksesoris. 100 tahun kemudian, kami pun meninggalkan keramaian Mataram menuju suatu desa yang sunyi bernama Puyung.

Sampai di Puyung sekitar pukul 11 wita. Mas Wino (suami mbak ira) memarkir mobil di sebuah toko yang tutup bernama Warung Pojok (kalau nggak salah). Di sebelah warung itu ada gang kecil. Di depan gang itu ada plang penunjuk warungnya.

nah setelah jalan beberapa saat kita pun sampai di depan warungnya naq esun ini. Inaq artinya Ibu, dalam bahasa sasak. Sekarang warung Naq Esun ini dikelola oleh anaknya yang ketiga. Katanya sih ada cabangnya di mataram, tapi lauknya dibawa dari Puyung setiap pagi. Jadi, segala proses masak memasak memang dilakukan di Puyung ini. Konsep warungnya lesehan, ada satu rak penuh kerupuk. Setiap meja diatur memanjang dan sudah ada gelas dan ceret air putih berwarnya emas (ceretnya, bukan airnya).

Berhubung sudah jam 11 malam, nafsu makan saya sudah lenyap. Ditambah belum makan dari tadi siang yang sempat membuat maag saya kambuh setelah dilarang menyelamatkan diri ke warung sate tadi. Akhirnya saya cuma makan nasi Puyung yang pedasnya sedang, walau dalam hati saya tau – sedangnya orang Lombok itu kayaknya pedes banget buat saya. Dan voila, datanglah pesanan kami. Nasi panas dialasi daun pisang, suwiran ayam yang digoreng garing, ayam cincang yang dibumbu pedas dan kedelai goreng.

nasi puyung aduhai pedasnya

Yang unik dari ayam pedasnya, daging ayamnya dicincang bareng dengan tulang-tulangnya. Jadi sambil sibuk megap-megap dan mendesah kepedasan, anda juga akan menghadapi serangan gigi kemlothok karena tulang belulang si ayam ini. Saya lirik piring sebelah kok tulangnya ikut termakan ya? Apa kebetulan saya dapat tulang yang tidak ikut tergilas halus atau mulut saya yang kelewat sensitif dalam menghalau bala berupa tulang ini? Ah entahlah.

Dan ternyata saudara-saudara, rasanya benar2 hot. Oke, tidak sepedas yang saya bayangkan, tapi tetap saja pedas. Ingus saya sudah meler haha (tidak bermaksud menghilangkan selera makan). Adel, anaknya ibu kos yang calon model, yang sangat doyan pedas saja sampai berlinang air mata. Oke, dia pesan yang pedas (dan mungkin sebelum makan dia sedang bersedih). Mungkin lidah saya sudah sedikit tercemar oleh selera orang Lombok  masalah tingkat kepedasan makanan. Saya jadi menyesal nggak pesan yang pedas. Hiks 😦 . Seperti yang mbak ira bilang, di tengah-tengah rasa pedas dan gigi kemlothok, saya ingin terus dan terus melahap suap demi suap nasi puyung ni. Seolah ada pertentangan di lidah saya.

  •  A : Sudaaaaahhhh…!! Panaaaaaaassss!!! Aku tak tahan lagiiii!!! Mas, pas mas.. Tolong… Pas…!!! (melambai ke kamera)
  • B : Ahahahahahahaha, enak kan?? Habiskaaaaaannnn,, tandaskan piringmuuuuu… Aku masih ingin memakannya!!!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, kami memang sebenarnya sudah malas makan karena udah kelewatan jam makan. Alhasil dari 6 piring nasi, cuma piring saya dan Mas Wino saja yang tandas. Piring mbak ira juga bersih sih, tapi dia menyumbangkan separuh nasinya ke mas wino. Curang kan? Waktu membayar, harganya sangat terjangkau. Total pesanan 6 nasi, 2 teh botol dingin, 4 plastik kerupuk, habisnya 60ribu saja. Dengan bodohnya saya nggak bertanya berapa harga nasi per piringnya, tapi katanya sih 8000. Mungkin. Hahaha. Oiya, kata mbak ira, nasi puyung ini lebih enak kalau dibungkus, karena dibungkusnya pakai daun pisang. Jadi waktu dibuka aromanya lebih sedap dan rasanya lebih gurih.

Seperti kata pepatah, lain di mulut lain di perut. Mulut saya berkata oke, i can handle this. Tapi beberapa saat kemudian, waktu perjalanan pulang, lambung saya memberontak, maag saya kembali kambuh. Dan lanjutan kepedihan deritanya biarlah saya kubur di dalam hati saya sendiri. Namun saya berjanji bahwa di lain kesempatan saya akan datang dengan nafsu makan menggebu dan pesan yang pedas. Saya yakin, bahwa saya dapat memakannya sampai tandas hingga butir nasi penghabisan.

Jadi begitulah legenda nasi puyung versi saya. Kalau main ke Lombok, jangan lupa makan Nasi Puyung Inaq Esun untuk merasakan cita rasa masakan sasak yang luar biasa (pedasnya). —> penulis tidak berharap dapet nasi puyung gratis dengan mempromosikan ini, tapi kalau diberi tidak apa-apa :).

Advertisements

5 thoughts on “Pulau Lombok, Pulau yang HOT – efek Nasi Puyung

  1. satu hal yang menarik dari penempatan di luar daerah adalah icip-icip kulinernya…
    hehehehehe..
    salam kenal yah..sesama penempatan luar jawa…

    iya betul sekali mas, meskipun butuh penyesuaian selera hehehe..
    salam kenal juga, emang mas penempatan dimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s