Memangnya kenapa kalau saya belum menikah?

Lulus kuliah? Sudah.

Bekerja? Sudah

Ada pacar? Sudah

Tunggu apa lagi?

Begitu kata orang-orang di sekitar saya.

Memang seperti itu pertanyaan yang sering sekali ditanyakan ke lulusan sekolah tinggi anak negeri tempat saya kuliah kemarin, bahkan kepada yang baru saja yudisium (belum wisuda). Saya juga sering sekali dapat pertanyaan seperti itu. Apalagi beberapa kawan sudah menikah, ngngng bukan beberapa sih, tapi lumayan banyak lah menurut saya. Padahal belum satu tahun kami lulus kuliah, banyak teman saya yang sudah berani mengakhiri masa lajangnya.

Saya bukannya tidak setuju dengan mereka yang menikah dini. Menikah muda itu bagus kok, banyak manfaatnya. Saya tau itu. Saya bahkan kagum dengan teman-teman yang sudah menikah, sudah punya baby, atau yang sedang hamil (halo mitha, hahahaha).

“Terus ngapain kamu nulis kek ginian?”

Hal yang melatarbelakangi saya berpikir seperti ini yaitu karena – terus terang – saya bosan, eh bukan, bosan sekali ditanya “kapan nikah?”, “kapan nyusul?”, bahkan beberapa hari yang lalu ada seseorang rekan kerja yang bertanya “Masa kamu nggak berani nikah sekarang? Si **** aja berani”. Sampai disitu saya benar-benar merasa sebal sekali. Saya tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi mengenai masalah itu. Memangnya kenapa sih kalau saya belum menikah dan dia sudah? Saya salah ya? *Terus salah gue? Salah temen-temen gue?*

Saya pernah kok punya keinginan untuk cepat-cepat menikah. Kayaknya asyik gitu, ada teman buat ngapa2in, ada jaminan yang sah kalau dia itu milik kita, bisa minta pindah ikut suami dan keluar dari pulau ini trus juga bisa minta duit *ups*. Ditambah lagi kayaknya menikah muda sekarang sedang jadi trend, jadi kenapa nggak? Toh orang tua saya juga nggak keberatan.

Tapi semakin kesini saya semakin berpikir kalau – bagi saya – menikah itu hal yang sangaaaat besar. A very big thing. Menikah nggak Cuma sekedar mengubah aku dan kamu menjadi kita. Tapi konsekuensi yang ditimbulkan dari sebuah ijab qabul perkawinan itu sangat besar. Apalagi di pihak wanita. Saya nggak bisa lagi bermain sesuka hati saya, mesti ijin dulu ke suami. Belum lagi kalau punya momongan. Dengan kondisi yang berjauhan seperti ini, sudah siapkah saya? (salut lagi untuk mitha :D).

Lalu bagaimana dengan impian-impian saya yang belum terwujud, seperti sekolah lagi, belajar menyelam, dan hal-hal (yang mungkin bisa dibilang konyol) lainnya yang belum sempat saya lakukan sekarang. Mungkin akan sulit kalau saya sudah menikah nanti. Apalagi keinginan saya, kalau saya sudah menjadi istrinya, impian kami bersama akan menjadi impian saya juga, dan impian saya (walaupun nggak akan saya hapuskan) akan menjadi nomor sekian. Hal ini saya sadari waktu nonton ulang serial How I Met Your Mother dari season 1 karena saya nggak ada hiburan :p. Di episode akhir (kalau nggak salah) Lily yang sudah tinggal hitungan hari saja untuk menikahi Marshall menyadari kalau dia punya impian yang belum terwujud, makanya dia ingin mencari tau bagaimana dirinya di luar sana walaupun menikahi Marshall adalah hal yang selalu dia inginkan.

Selanjutnya, masalah finansial. Walaupun sudah bekerja, prioritas setiap orang untuk mengatur keuangannya tentu berbeda-beda. Misalnya saja. Ada yang masih harus memakai uangnya untuk membantu keluarganya, ada yang menggunakannya untuk membeli sesuatu yang diidam-idamkan, untuk biaya kuliah, untuk traveling juga mungkin. Misalnya saja lho. Kalau saya pribadi sih terus terang masih egois dalam menggunakan penghasilan saya. Maksudnya bukan Cuma buat foya-foya saja ini, tapi saya punya prioritas lain yang belum siap saya gunakan untuk biaya hidup kalau sudah menikah. Kasihan sama suami kan kalau begitu? Tapi untuk orang lain mungkin beda. Ini kan Cuma permisalan :p

Terus masalah usia, saya masih muda kok, masih 22. sudah terlalu tua kah untuk dikomentari “Kok belum menikah?”. Kalau sudah berarti yang komentar kebangetan tuh :p

“Cha kamu tuh cari-cari alasan aja nih buat nggak nikah muda.”

Mungkin juga begitu. Tapi nggak juga sih. Saya bukannya tidak mau menikah muda, hanya saja saya tidak merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat. walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk mengadakan perubahan rencana dan siapa tau sebentar lagi saya nyebar undangan hahahaha 😛
Menikah kan nggak cuma keputusan salah satu pihak. Kalau ceweknya udah mau tapi cowoknya belum atau sebaliknya bagaimana dong? Jadi, menikah adalah keputusan berdua. Kebetulan saya dan dia sama-sama tidak ingin buru2.

Jadi, memangnya kenapa kalau saya belum menikah?

Advertisements

6 thoughts on “Memangnya kenapa kalau saya belum menikah?

  1. “Kebetulan saya dan dia sama-sama tidak ingin buru2.”
    Kasian si dia cha, udah terlalu tua gitu kalo ga cepet km nikahin nanti dia keburu jadi aki-aki.
    :hammer

    Aku kan juga ngikutin serial HIMYM cha, jadi aku tau episode yang kamu maksud.
    Tapi itu kan ujung-ujungnya si Lily nyadar kalo yang dia pengenin itu Marshall kan?
    Lebih dari mimpinya yang jadi pelukis *tapi gagal* itu.
    *Lhoh kok malah bahas film*

    Intinya,impian masing-masing orang beda-beda.
    Kalo memang km masih pengen ngejar impian kamu, ya sok atuh neng.
    Ga ada yang nglarang.
    ini hidup kamu, yang ngejalanin kan kamu juga.
    Orang lain kan cuma jadi penonton.
    Soooo… Just be yourself darling.. Just follow your heart. *alah,opo iki*
    Yaaah, begitulah.
    *komen yang aneh*

    Pokoknya i luph u lah darl..
    Aku bakalan support apapun yang terbaik buat kamu yaaa..
    muach

    chachu:
    jahaaaattttt…!!! apakah dia se-aki-aki itu? wkwkwkwk (mudah2an orangnya nggak baca) hahaha
    iya bener, follow your hear,t let your love lead through the darkness hahahaha..
    makasih dukungannya ya cyin, semoga kamu juga mendapatkan impian kamu, yang itu tuuuhhhh hahahaha
    :mwah :kiss

  2. komen susulan:
    menikah itu pilihan kok chu.. memang dianjurkan menyegerakan menikah, tapi bukan berarti harus tergesa-gesa.. 😀
    dan ga masalah walaupun kamu belum menikah, I still love you cyn.. 😀

    chachu
    iya maksudku juga gitu mel, gak harus tergesa-gesa hehehe
    dan artinya kan masih ada kesempatan untuk bersamamu *lho?
    makasih ya cyin, love u too :kiss

  3. Asiikkk,, ada bahasan ini juga..

    kalo lg kalem, senyumin imut aja pas ditanya.
    kalo lg sabar,senyum plus,”minta doanya aja ya”
    kalo lg sebel, jawab aja, “ooh, mau ngebiayain nikah saya mbak/mas/pak/bu? makasi loh yaaa”.
    *kasi senyum 3 jari* *ngeloyor pergi*

    trust me,it works..

    *pengalaman pribadi

    chachu:
    wakakakaakkak, caranya mantep kiii…
    nanti dicoba deh kalo ada yang nanya lagi wkwkwk
    kalo aku kadang pas lagi sebel banget “kan yang mau nikah saya, kok situ yang bingung”
    hahaha

  4. kmu shi enak sudh wisuda dan bekerja..sy pengen bnget nikah,,q ma pcar sdh sma2 siap..hnya sja tkut ma ortu..tkut ngecewain,,krna skrg sy lgi nyusun skripsi dan belom bekerja pula..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s