Petualangan Power Rangers Part 1 – Pantai Kuta

Weekend kemarin rencana saya : tidak ada.

Tetapi waktu sedang asyik2nya karaokean bertiga dengan 2 orang teman kantor (sebut saja mas samin dan mas wahyu) tiba-tiba kami memutuskan untuk piknik gara-gara mas wahyu mati gaya waktu weekend. Awalnya saya sempat ragu karena budget piknik saya untuk bulan november sudah terpakai untuk jalan ke mall (yah bayangin aja, biaya taksi selong-mataram yang jaraknya sekitar 50 km, trus makan di PH, trus karaokean, trus beli buku. Errr – kalap juga saya hari itu). Saya dan mas samin (dalam kasus ini dia partner in crime saya) juga sudah merencanakan piknik berikutnya di bulan desember akhir. Tapi karena kasihan sama mas wahyu dan saya juga pengen ikut (halah) dan bertambahnya peserta menjadi 5 orang (sehingga teman sharing biaya bisa lebih banyak, haha), saya memutuskan antusias dalam piknik ini.

Keesokan paginya, hari Sabtu 26 November 2011 pukul 08.00 WITA dengan mobil sewaan, dimulailah petualangan Power Rangers Selong yang terdiri dari saya, nini, mas samin, mas wahyu dan mas rozi. Rencana awal tujuan utama kami ke Tanjung Aan, Selong Belanak dan Mawun. Tapi atas permintaan Nini yang sudah setengah tahun di Lombok tapi belum pernah kemana-mana, kami mampir dulu ke Pantai Kuta.

This slideshow requires JavaScript.

Meskipun kami berempat selain nini sudah pernah ke Kuta, ternyata pak sopir membawa kami ke bagian pantai yang belum pernah kami kunjungi. Kali ini kami berhenti di pantai sebelah Novotel Kuta. Begitu turun dari mobil, kami langsung disambut beberapa pemuda yang berjualan kelapa muda. Yang saya tidak sukai dari mereka adalah, “ngejar dan maksa”. Kalau kita bilang tidak, dikejar-kejar. Kalau kita beli, yang lain makin banyak yang menghampiri, jadi kita dikerubuti pedagang. Menurut saya hal itu sangat mengganggu bagi orang-orang yang datang berkunjung. Ya walaupun mereka berusaha, tapi kalau yang ditawari nggak mau kan seharusnya nggak dikejar seperti itu, malah tambah bikin risih. Toh kalau nantinya si pengunjung itu ingin beli, dia pasti menghampiri penjualnya kan? Kata mas samin paling tepat menghadapinya dengan cara diam, jangan bilang tidak dan bersikap seolah2 tidak dengar, terus jalan saja. Malang bagi nini, dia menolak dengan halus pada dua orang anak perempuan yang berjualan gelang, sehingga ia terus menerus dibuntuti.

Saat pertama kali berkunjung ke Kuta, hal yang saya ingat adalah pasir pantainya yang berwarna putih dan berukuran besar dan bulat. Saya menjulukinya pasir merica. Namun ternyata di pantai sebelah hotel ini pasirnya tidak sebesar pasir di tempat yang pernah saya datangi dulu. Walaupun pantainya sama2 curam dan airnya sama2 biru bening.

Setelah foto2 geje, saya, nini dan mas samin berjalan melewati pantai yang jadi bagian hotel untuk menyusul mas rozi dan mas wahyu yang telah berjalan lebih dulu. Tapi ketika kami sampai di sebuah jembatan, kami berhenti lagi untuk berfoto ria, dan saya langsung jatuh cinta pada tempat itu. Jembatan kayu yang sudah lapuk dan lepas2 kayunya itu menghubungkan 2 bagian daratan. Di bawah jembatan, air laut mengalir ke semacam sungai (tapi saya rasa itu bukan sungai karena air mengalir dari laut, bukan ke laut), mungkin itu cekungan laut tapi tidak terlihat di mana ujungnya karena aliran itu berbelok dan menghilang di balik area hotel. Airnya lebih berwarna kehijauan, mungkin karena di sekitarnya tertutup oleh bukit2 hijau. Pasir pantainya berukuran lebih besar dari tempat awal tadi,lebih mendekati ukuran pasir merica. Akhirnya kami pun duduk2 di dekat lengkungan pantai tempat bermulanya cekungan tadi.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam kegalauan, akhirnya kami pun menyusul mas rozi menyebrangi jembatan dan mendaki bukit. Ternyata di balik bukit itu ada semacam pangkalan tempat bule-bule berselancar. Di bagian lain kuta, ombaknya besar juga tapi anehnya tidak sampai di bibir pantai dan pecah di tengah. Namun di sini ombak besar bergulung-gulung sampai ke tepi pantai, cocok untuk surfing. Disini juga kita bisa melihat pemandangan bule-bule ganteng dan seksi.

Setelah dari situ, kami kembali ke tempat parkir mobil, masih dikejar-kejar oleh para penjual kelapa muda yang sepertinya mengira kami artis, bahkan diteriakin pelit. Huh! Pelit kamu bilang? Dasar anak muda! *gaya bicara lebay*

Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan. Dan berhubung sudah mau jam pulang kantor, cerita ini sementara bersambung dulu, hehehe… πŸ˜›

Advertisements

10 thoughts on “Petualangan Power Rangers Part 1 – Pantai Kuta

  1. senangnya ada objek wisata bagus di sana..
    ada partner in crime lagi.
    di sini saya banyak konco gelut, bukan konco dolan sayangnyaa..
    *hiks*

    nanti kalo bulan madu saya ke lombok, anterin jalan2 ya say..
    hahahaha

    • lha kamu kan ada geng kasela, di sini sepulau yg angkatan kita cuma aku ma nini lho nin, hehe

      beress, tapi kalo hanimun tak anterin apakah tidak mengganggu kesyahduanmu? hahahaha

  2. wah asiknya yang jalan2 rame2..
    asiknya ada temen kantor yang bisa diajakin jalan2..
    aku biasanya ikut gerombolan mas2 di KPP kalau mau jalan2 agak jauh,.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s