gosong

Saya sedang kemakan omongan saya sendiri. beberapa bulan yang lalu saya pernah bilang ke beberapa orang kalau saya ini orang tipe outdoor. Buat saya nggak masalah bersenang2 di luar ruangan, dan nggak masalah kalau kulit saya gosong. Dan sekarangggg, saya beneran gosong. Hitam kelam dan legam, atau bahasanya si kecut “nglanges”. Jadi sepenangkapan saya, nglanges itu hitam gosong dan berminyak. Wah. Apakah penyebab semua ini terjadi?

Seperti yang saya ceritakan di postingan kemarin kalau saya dan Budi mau jalan2 ke Bali, wohohoho… Niatnya sih mau liburan gitu, saya sama si kecut udah samaan ngambil cuti 4 hari buat keliling Bali-Lombok. Hari minggu yang mendung itu saya dan Budi pun berangkat ke pelabuhan Lembar dengan maksud hati ingin menyeberang ke Pelabuhan Padangbai, Bali. Baru jalan kira-lira 7km, sudah hujan deras saudara. Dan jas hujan saya yang model baju pun tak kuasa menutupi tas punggung yang menggembung. Akhirnya saya nyobek tas kresek ukuran besar yang saya bawa menjadi lebar, trus diikat ke ujung2 tas. Hahahaha, the power of kepepet memang luar biasa. Alkisah sampailah saya di Pulau Dewata tepatnya di kost teman saya si Wynda, dan mendapati kalau kost-nya kosong alias orangnya lagi pergi huwawawawawa, apes banget dah saya. Akhirnya sih ikut rombongan Noven-Adhi dan Mas Yanis makan di Jimbaran sekalian nunggu si Wynda pulang. Dan pulangnya dari Jimbaran mau balik ke kost Wynda saya pake acara nyasar sendirian, padahal udah jam setengah 12 malem. Hiiiiii… Thanks again to GPS yang telah memandu saya ke jalan yang benar hahaha…

Ah begitulah langsung ke intinya, yang jelas saya jadi hitam begini nih bukan karena saya kebanyakan main ke pantai dan main layangan. Oke, saya memang banyak main ke pantai dan panas2an. Namun, yang menyebabkan saya jadi hitam adalah cuaca hahahaha. Haruskah saya menyalahkan angin barat yang membuat saya terbang tidak tinggi saat main fly fish di benoa? Haruskah saya menyalahkan diri sendiri yang salah posisi saat memarkir si Budi? Sungguh hal ini membuat hati teriris-iris dan dompet menjadi tipis. Hey, that rhymes! Rencana awalnya yah, saya berangkat Minggu, Senin menjemput si Kecut di bandara trus main sama Noven dkk. Rabu tengah malem nyeberang balik ke Lombok sama Kecut dan lanjut keliling Lombok sampai dia pulang hari Minggu.

antrian motor (sebagian kecil)

Tahukah anda bahwa sejak hari Rabu siang yang lalu penyeberangan ferry  Padangbai-Lembar ditutup? Tahukah anda bahwa antrian kendaraan yang disebabkannya mencapai beberapa kilometer di luar pelabuhan? Tahukah anda bahwa posisi menentukan prestasi itu benar adanya? Ya, saya, Budi dan mas kecut menjadi salah satu korban keganasan angin barat-barat laut yang membuat tinggi gelombang mencapai 5 meter. Alhamdulillah ya, kami belum berada di kapal. Jadi kami masih menunggu dengan aman dan tidak tenang di Padangbai. Sedangkan ada kapal yang nyaris tenggelam karena termakan ombak. untuk itu saya sangat bersyukur.

Jadi begini, saya dan kecut merencanakan pulang ke Lombok hari rabu malam, sampai ke Lombok pagi. Dan manusia hanya bisa merencanakan, Gusti Allah yang menentukan. Ternyata sejak rabu siang penyebrangan ditutup karena membahayakan untuk pelayaran. Kami pun dengan setia menunggu di ruang tunggu bersama ratusan calon penumpang lain, siapa tahu tengah malem gitu ada penyeberangan. Ternyata sampai pagi pun belum ada lagi, malahan ada pengumuman bahwa dipastikan sampai besok pagi (Jumat) tidak ada penyeberangan. Kami pun bimbang. Mau kemana kaki ini melangkah dan roda Budi berputar. Rasanya udah males kemana-mana soalnya kami masing2 bawa tas punggung lumayan berat dan beranak satu tas besar Joger (seukuran tas bepergian sekeluarga itu lho, hahaha). Makanya kami males. Tapi berhubung menunggu pun males, kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke Sanur yang kemaren memang kelewatan karena waktunya nggak cukup (tadinya). Berhubung matahari sedang bersinar dengan sangat terik sekali, Sanur membuat tingkat kehitaman saya bertambah beberapa persen. Dengan wajah setengah nglanges, saya dan kecut melanjutkan jalan2 ke mall, niatnya sih nonton film. Yah, maklum di Lombok ga ada bioskop, jadi saya setengah memaksa kecut buat menemani saya nonton, lagipula kami bingung mau jalan2 kemana lagi hahaha.

before
after

Dan begitulah, keesokan paginya, kami berangkat jam 7 pagi dari Sanur, berharap dapat kapal pagi, siang sudah sampai di Lombok. Namun apalah daya sesampainya di Padangbai, kapal belum ada yang jalan. Si kecut menghibur saya dengan bilang, “Udah, ditunggu aja, ntar jam 12 pasti udah ada”. Ketika jam 12 tidak kunjung ada tanda2 penyeberangan dibuka, dia bilang nanti jam 3 pasti ada. Ketika jam 3 datang, dia bilang pasti nanti malam ada. Dan ternyata malam harinya ada pengumuman bahwa loket pembelian tiket sudah dibuka. Kecut yang sudah tidur pun saya bangunkan untuk cepat2 mengantre tiket hahahaha. Tapi ternyata penyeberangannya baru ada besok paginya (Sabtu pagi). Menurut informasi yang saya dapatkan, penyeberangan baru akan di buka pada pukul 05.00. Sabtu paginya, setelah sholat subuh, kami menunggu dengan cemas, mana kapalnyaaaaa? Ternyata oh ternyata, jam 5 itu kapalnya baru berangkat dari Lembar, jadi kapal pertama yang sampai ke Padangbai itu sekitar jam 9 lewat. Oh no…

Dan kesalahan saya adalah, malam hari itu sempat terpikir oleh saya untuk memindahkan Budi ke tempat yang lebih dekat dengan dermaga, karena Budi di parkir di depan ruang tunggu yang sudah berubah menyerupai camp pengungsian. Tapi saya urung memberitahu Kecut, jadi pada saat antri masuk kapal, otomatis kami berada di urutan agak belakang. Nah, inilah. Matahari bersinar sangat terik sekali banget pada saat kami dan ratusan sepeda motor lainnya mengantri masuk kapal. Berdiri di panas-panas dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore demi mengantri kapal, sampai nggak makan segala. Yang membuat sebal, motor hanya boleh masuk 30 unit per kapal. Tetapi pada kenyataannya hanya 10 yang boleh masuk. Saya yang udah kepanasan dan hampir menyerah disabar-sabarin sama Kecut. Pasti hari ini dapat, besok pagi ke Kuta sama Tanjung Aan aja sebelum ngantar ke bandara, begitu kata si Kecut yang baik ini. Namun apalah daya, jam 15.30 penyeberangan kembali ditutup karena cuaca kembali memburuk dan baru akan dibuka lagi Minggu pagi jam 9. Saya dan Kecut yang belum kebagian kapal kelimpungan, karena pesawatnya si Kecut dari Lombok besok pagi. Takutnya kelewatan.  Hmmm…

Jadi begitulah kisah kami terjebak di Padangbai. Penonton tanya, endingnya gimana dooong? Endingnya? Hahahaha… Kami berniat menunggu besok paginya. Alasannya sih karena si Budi terjebak di tengah antrean ratusan motor dan gak bisa kemana-mana. Tapi sorenya ada Saudara jauh saya yang datang menjemput dan Budi pun diangkat keluar antrean. Saya baru tahu juga kalau ada saudara jauh di Bali, Komandan militer pula hahaha.. Saya dan Kecut kembali ke Denpasar dengan hati senang (tapi bohong) dan muka nglanges hasil berjemur seharian. Dipesankan tiket pesawat sih, dan Budi juga mau dianterin ke kantor Rabu ini sama ajudannya Pak Komandan yang baik hati ini. Jadi Komandan itu sakti banget ternyata, pas di bandara keesokan harinya, kami di kawal sampai ke ruang tunggu penumpang tanpa pake ngantri apa2. Berasa orang penting deh walaupun wajah tidak mendukung karena nglanges hahaha..

Kecewanya sih yang pasti karena sebenarnya tujuan utama kami berlibur ke Lombok, malah tidak tercapai sama sekali kecuali kalau poto di BIL, liat orang nyongkol dan keliling Selong dianggep keliling Lombok sama Kecut hahaha… Kecut juga ketinggalan pesawatnya ke Jakarta. Gimana nggak, kami baru sampai Lombok jam 5 sore hari minggu. Dan jam 4 pagi dia sudah berangkat ke lagi demi sesuap nasi di Jakarta Raya sana, hiks…

Yang pasti hal yang berperan sangat besar dalam kegosongan kami adalah angin barat. Oh angin barat sampaikan pada dunia bahwa aku ingin kulitku nggak nglanges lagi, huhuhuhu… Malu saya malu. Apalagi waktu saya ngetik draft post ini nih, ada satker datang dan langsung bertanya tanpa basa-basi “Mbak, sakit ya? Kok kusem banget mukanya..” Kurang ajaaaaaaaaarrrrrrrrrrrr…..!!!!

PS: ini baru saya posting tadi, tiba2 dikasih tau si Amel kalo ada giveaway dari si.tukang.nyampah, jadi diedit dikit deh biar bisa ikutan hahaha…

Advertisements

5 thoughts on “gosong

  1. […] Destinasi pertama kami adalah pantai Selong Belanak. Kira2 satu jam perjalanan dari kota Mataram. Ketika mendekati daerah pantai, kita akan disuguhi pemandangan bukit2 menghijau dan laut yang tampak di kejauhan. Bener2 seger di mata dan sejuk di hati lah hahaha… Beberapa kilo sebelum pantai juga ada bukit spot foto2. Tolong abaikan wajah saya yang gosong oleh2 dari terjebak di Padang Bai […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s