hometown vs current town

Pernah dengar ada pepatah yang mengatakan, “seindah-indahnya negeri orang, tetap lebih indah negeri sendiri”. Atau nggak usah negeri deh, kampung halaman saja.  Ya, hal seperti itulah yang saya rasakan saat ini. Lombok itu indah sekali lho Saudara. Beneran dah. Tapi saya lebih merindukan kampung masa kecil di desa Sukorejo sana, lebih merindukan kampung halaman saya di Semarang, dan bahkan kadang saya merindukan kesemrawutan di Jakarta hahaha… Beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol sama teman, saya bilang sudah 8 bulan di sini kok belum berasa rumah ya Lombok ini. They say that home is really where the heart is, blablabla… Nah, kalau heart-nya aja nggak disini gimana dong ya?

Saya bukan tipe orang yang kangenan sama rumah. Kangen sih pasti, tapi saya males pulang sering2. Dan saya termasuk orang yang kemampuan survive-di-tanah-rantau-nya tinggi, menurut saya sih. Dan ibu saya, hahaha… Saya nggak mewek2 pengen pulang dan selalu pulang setiap ada kesempatan. Bahkan, no offense, saya nggak suka bela-belain pulang weekend, apalagi sekarang beda pulau begini, kecuali ada acara penting. Waktu di Jakarta juga saya hanya pulang pas weekend kalau disuruh pulang dan mau kondangan hohohoho…

Eh, saya nggak benci kok sama Lombok, sama Selong juga. Saya suka, kalau kata orang barat, tarafnya masih “I like you”, bukan “I Love you”. Yaaaa, mungkin karena itu berasa belum rumah disini. Sebelumnya maaf kalau orang Lombok nggak berkenan baca tulisan ini, silahkan ditutup, hehehe.. Tapi hal-hal ini yang bikin saya nggak betah.

  1. Jalanan, terutama  di Selong (karena saya tinggal disini), banyak yang rusak, berlubang-lubang dan berpasir. Kok nggak ada yang berinisiatif buat memperbaiki ya, paling nggak ditutup tanah dulu atau gimana biar nggak membahayakan pengendara jadi heran deh sama satker bersangkutan (no mention). Kan saya tinggal di kompleks, rumahnya bagus-bagus tuh, mewah-mewah. Tapi jalanannya jelek bener, belum aspal/paving block. Kalau nggak hujan berdebu, kalau hujan tergenang air.
  2. Seperti yang pernah saya ceritakan, cidomo merupakan salah satu transportasi rakyat yang favorit di Selong. Tapi efeknya, banyak (maaf) kotoran kuda dimana-mana. Di jalan raya, jalan kampung, jalan di kompleks, sepanjang jalan adaaaa aja kotoran kuda. Dari yang masih fresh basah dan hangat (nggak pernah pegang lho ya) sampai yang udah kering dan hampir berubah jadi debu. Saya kan termasuk orang yang gampang jijik, jadi ngelihat benda itu dimana-mana bikin saya risih. Baunya juga kemana-mana. Bayangkan saja, udara yang kita hirup dan makanan yang dijual di pinggir jalan, terkena debu tanah daaaaan debu kotoran kuda. Hiiiii…. Setiap hari saat berjalan baik sendiri maupun bersama Budi, pikiran saya selalu “Aaaaarggghhh, I’ve had enough!!!”. Tapi saya nggak bisa menghindarinya karena dia ada dimana-mana, seperti stalker gitu, huhuhuhu…
  3. Ketertiban berlalu-lintas. Teman kost yang juga pendatang pernah bilang, “Baru di Lombok ini dah, diperempatan dapat lampu hijau tapi tetep harus tengok kanan-kiri”. Keadaannya memang seperti itu, Saudara. Lampu lalin itu seakan tak berdaya disini. Misalnya ya, walaupun sudah ada tulisan  Belok Kiri Ikuti Isyarat Lampu, tetap saja tuh pada nyelonong aja belok kiri. Masih mending yang nyelonong yang belok kiri saja, yang mau lurus dan belok kanan juga tinggal tengok kanan-kiri, nyebrang dengan santainya. Sebagai anggota PKS (Patroli Keamanan Sekolah) waktu masih SMA, kalau di lampu lalin ada tulisan Belok Kiri Ikuti Isyarat Lampu ya saya berhenti dong, di sebelah kiri tentunya karena saya mau belok kiri, tidak lupa menyalakan lampu sein kiri. Apa yang terjadi? Saya diklaksonin sama kendaraan2 di belakang saya karena dianggap menghalangi jalan belok ke kiri. Rasanya pengen teriak, “Nggak bisa baca ya?”. Di sisi lain, saat ada rambu Belok Kiri Jalan Terus, orang-orang yang mau lurus dan belok kanan malah berhenti di sebelah kiri, sehingga menghalangi jalan orang yang mau ke kiri. Nyebelin nggak sih? Terus juga di sini pemakaian helm belum tertib. Yang penting yang depan sudah pakai helm. Kalau matahari sudah tenggelam malah nggak usah pakai helm. Oke kan?
  4. Susah cari barang-barang, bukan semua barang sih. Gimana yah? Kemarin saya cari cat poster sampai ke Mataram nggak ada yang seperti yang saya mau. Ada sih, tapi warna dan pilihan merk-nya terbatas, nggak seperti yang biasanya ada di Gramed. Cat akrilik juga ga ada. Jadi sampai sekarang, saya belum nemu cat yang saya butuhkan itu. Selain itu cari bahan-bahan buat nge-craft agak susah, kalau setiap saat harus beli online yaaaa susah juga. Belum lagi kalau butuhnya cuma sedikit. Kemarin kantor cari boks plastik untuk naruh semacam leaflet dan pengumuman juga ga ada. Atau kami yang nggak tau dimana belinya? Tapi saya sudah Tanya ke beberapa orang local, nggak ada yang tau. Atau mungkin ada yang kebetulan baca tulisan ini dan tahu tempat beli2 itu? Yah, sebenarnya saya nggak mau menyalahkan keadaan sih, mungkin barang-barang yang kami butuhkan nggak laku banyak disini, jadi nggak ada yang jual. Tapi berhubung saya terbiasa mudah dapat apa-apa, keadaan seperti ini kadang membuat saya jengkel sendiri, hahahaha…
  5. Menurut saya Lombok mempunyai potensi wisata yang sangat besar. Namun sayangnya, potensi ini belum didukung infrastruktur yang memadai. Akses ke pantai-pantai kebanyakan jalannya rusak. Ke pantai Surga misalnya, masih berupa jalan tanah yang pastinya becek saat hujan. Jalan antara Mawun-Selong Belanak yang hancur parah. Dan kalau di pantai kita main air, susah cari tempat bilas, atau saya yang nggak tau dimana ya? Hahahaha…

Yayayaya, tulisan ini murni curcol. Bukannya mau menjelek-jelekkan Lombok, tapi ini hanya sebagian unek-unek saya, seorang pendatang. Sekalian kritik gitu. Tapi si Kecut pernah berkata kepada saya, suatu saat pasti Lombok akan berkembang. Contoh nyatanya, bandara yang baru ini sudah mampu menampung pesawat asing yang besar-besar, sehingga dapat meningkatkan jumlah wisatawan. Baru tadi setelah saya nulis draft awal tulisan ini, jalan yang rusak parah di perempatan dekat kantor sudah ditambal aspal. Balum menyeluruh sih, tapi paling tidak ada peningkatan J. Terus kalau jalanan di kampung, biasanya sih di tempat saya tinggal, orang2 yang tinggal di sepanjang jalan iuran buat memperbaiki jalan, seperti di kampung saya di Semarang sono yang selalu kebanjiran, semuanya iuran untuk meninggikan jalan dan dipaving.

Harapan saya sih Lombok akan lebih maju lagi, tetapi tetap menjaga kelestarian alamnya, seperti Bali. Masalah kotoran kuda tadi, menurut saya seharusnya pemilik cidomo memberi penampungan di kendaraannya, jadi si kuda tidak mengotori jalanan. Kesadaran tertib berlalu lintas seharusnya lebih ditingkatkan lagi. Pak Polisi jangan diam saja kalau ada yang melanggar, sekali-sekali diadakan razia kek, tapi yang resmi, jangan menjebak seperti misalnya ngumpet di balik pohon hahahaha…

Fiuhhhh, panjang juga yah hahaha. Hmmm, kalau tips untuk bertahan di rantau ala saya sih, nikmati saja yang nggak ada di kampung kita tapi ada disini. Mumpung di rantau gitu. Misalnya karena saya di Lombok, ya jalan2 aja, muter2 Lombok kalau ada waktu luang karena masih banyak keindahan Lombok yang nggak ada di kampung saya yang patut di-explore. Walaupun sebenarnya saya bisa dibilang belum kemana-mana sih, kemarin baru aja diejekin anak-anak kos karena saya belum pernah main ke Gili hahaha… Finally, betah sih tinggal di sini, tapi seperti yang saya bilang tadi, lebih betah di kampung halaman, hehehehe…

Cheers 😛

Advertisements

10 thoughts on “hometown vs current town

  1. iya.. cidomonya harusnya niru andong dan dokar di jawa.. jadi kalau kudanya pup ga keteteran di jalan lagi, tertampung sama karung yang diikat..

    bener banget cha,.. home is really where the heart is.. kayaknya itu deh yang bikin kita belum betah di current town..


    chachu:
    iya mel, maksudku juga pengennya gitu, kayak di jawa gitu kan jadinya ga mengotori jalan, heuheuheu
    apalagi heart-nya ada di jakarta ya mel, hahahaha 🙂

    • mungkin kamu perlu sosialisasi aja sama kusir cidomonya chu.. hahhaa
      eh, kalau kupikir2 banyak juga lho cewek perben yang heartnya ada di jakarta yaa…

      chachu:
      jyahahahaha, pake DIPA-nya KPPN Bau-Bau ya? hehehehe
      iya juga ya? tapi cowok juga ada lho, itu tuh para cowok muko-muko hahaha

  2. sama cha,aku juga kangen kampung halaman. tapi alhamdulillah yah akhir-akhir ini sering ke jakarta. jadi meski ga ketemu orang rumah, ketemu dia juga masih alhamdulillah. toh, sama-sama ketemu orang yg disayang. *curcol*
    tapi efek negatifnya, duit di kantong jadi ludeeeesss..
    hahaha
    dilema memang..

    chachu:
    gapapa nin, ketemu itu penting, apalagi kalau udah resmi hihihihihi 😛

  3. Chachaaaa.. berkunjung di mari… aku pasang link blogmu d bloglist ku ya ^^
    Pengen deh maen ke lombok mengunjungi Chacha, eh jalan2 ding :p


    chachu:
    oke mon, hehehehe
    sini-sini main, ajakin temen2 yang lainnya, ntar tak anterin jalan2 😛

  4. wah selain alumnus STAN, alumnus Patroli Keamanan Sekolah juga.. sama kita… (meski aku bukan gorilla)

    kalo pengalamanku setelah ditempatkan di 2 daerah, current town, setelah gak current lagi, serasa home town.. kita akan merindukannya di kemudian hari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s