19022012 part 2 – Tanjung Ringgit

Eaaaaa, janjinya mau lanjutin posting liburan hari Selasa. Sebenarnya selasa sore potonya sudah keupload semua, tetapi apalah daya pengumuman penempatan adik kelas mengganggu konsentrasi saya hihihihi.

Okay, back to topic, setelah selesai poto2 ria di Kaliantan, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Ringgit, ujung tenggara Pulau Lombok. Dari Kaliantan menuju Tanjung Ringgit perjalanan memakan waktu kira2 satu jam dengan mobil kecepatan pelan, err mungkin 30an km/jam. Kenapa pelan? Karena jalannya offroad alias bekas aspal dan hancur parah di beberapa bagian. Rutenya dari arah Kaliantan menuju Keruak, lalu belok kanan di depan SMP 1 Jerowaru. Jalannya hancur dan tidak meyakinkan? Ya, berarti anda berada di jalur yang benar. Terus juga untuk menuju ke sana kita harus -literally- menembus hutan. Jangan lupa tengok kanan kiri karena anda bisa menjumpai biawak dan monyet berkeliaran di hutan ini. Waktu berangkat sih monyetnya belum terlihat, tapi saat perjalanan pulang kami banyak bertemu monyet yang berlarian dengan riang gembira. Mungkin tadi paginya masih tidur, maklum hari Minggu. Selain itu kami juga sempat meliht burung elang, jarang2 lho. Oh ya, pengalaman saya, mengajak orang yang bisa berbahasa sasak adalah ide bagus karena di daerah yang agak terpencil begini kadang orang-orang tidak fasih menggunakan bahasa Indonesia, jadi ajaklah native speaker hehehe..

Setelah satu jam menembus hutan, kami sampai di sebuah bangunan dan menara besi, entah itu tower apa saya lupa tidak bertanya hehehe.. Dari situ ada petunjuk menuju Goa Raksasa dan Meriam Jepang, yaitu berjalan melewati jalan tanah di samping bangunan tersebut. Xenia sewaan itu pun kami paksa melewati jalan dua tapak dan menembus semak2. Selewat jalan itu, sejauh mata memandang, terhampar padang rumput yang luas, berakhir di lautan lepas. Benar-benar memanjakan mata, memandang hijau dan biru dimana-mana. Kami berada di atas tebing-tebing, dengan lautan biru jernih di bawah. Sepertinya lokasi yang tepat untuk menirukan video klip If I Let You Go-nya Westlife hehehe. Bukit-bukit rumput dengan semak2 ini mengingatkan saya pada padang rumput Teletubbies, hanya saja disini banyak kerbau. Ketika menuruni bukit menuju arah laut, saya melihat motor2 diparkir tapi tidak ada orang yang kelihatan. Waktu selanjutnya kami saya lihat dari atas, dibawah sama ada semacam gua yang pintu masuknya berbentuk segiempat. Mau turun lagi males, soalnya sudah terlanjur naik hahaha.. Kami berfoto2 sebentar, lalu ingin mencari goa raksasa. Setelah beberapa saat mencari dan belum ketemu, kami memutuskan untuk makan siang dulu dengan bekal yang dibawakan istri Mas Hendra, yaitu telur ceplok dan ayam bumbu khas Rarang. Kalau tadi pagi masih mendung, sekarang matahari bersinar dengan teriknya dan sayangnya disini tidak ada pepohonan besar. Jadilah kami memaksa sebatang pohon kurus untuk tempat berteduh ramai-ramai sewaktu makan siang.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan, Mas Hendra secara tidak sengaja menemukan lokasi meriam Jepang yang tersembunyi dibalik semak saat menutup pintu mobil. Jadilah kami kembali berfoto ria di meriam itu. Kata salah seorang kawan, sebenarnya di Tanjung Ringgit ini ada dua meriam, tetapi kami hanya menjumpai satu saja. Sampai disini kami belum juga menemukan si gua raksasa yang misterius. Saya dan Mas Samin berinisiatif bertanya kepada bapak2 penggembala kerbau, tetapi tetep nggak ngerti karena si bapak tidak bisa bahasa Indonesia, kami pun menyerah dan menyerahkan mandat penting dalam bertanya kepada Mas Hendra hehehe… Untuk menuju ke goa raksasa, medan yang dilalui lebih ekstrim dari sekedar jalan2 di sekitaran padang rumput, tapi ga ekstrim juga sih hehehe. Dari tempat makan siang, kami masih harus berjalan beberapa puluh meter sampai mobil tidak bisa lagi lewat. Kemudian berjalan kaki menuruni bukit, lalu naik lagi, lalu menuruni lereng berbatu (cailahhh). Anak-anak kecil langsung menyerah tidak ikut turun hahaha, yaiyalah saya juga sebenarnya males, tapi nanggung sekali sudah sampai disini. Sampai di atas bukit kedua, jalannya seolah2 habis, tapi kami dikasih tau untuk terus berjalan maju ke arah laut. Karena turunannya lumayan curam dan berbatu2, saya yang malas menyuruh Mas Samin untuk turun duluan dan melihat apa memang di situ guanya. Ternyata memang benar, hehehe. Gua raksaasa ini terletak di bawah tanah dan sulit untuk dicapai karena sangat curam. Bisa pun saya ogah masuk, seram sih, dan banyak kelelawarnya hehehe. Konon, pada saat perang dulu goa ini digunakan para pejuang untuk bersembunyi. Dan konon juga disitu tinggal seorang “kakek tua dan cucu gadisnya” dan di sebelahnya ada “dayang-dayang”. Dan yang foto2 di situ maupun di meriam sering “ditutupin” fotonya. Hwaaaa… Percaya nggak percaya sih, tapi kalau saya sih yang penting jangan corat-coret dan buang sampah sembarangan.

Yang lucu, sewaktu kami pulang, saat akan melewati jalan sempit di samping bangunan menara, ada serombongan turis dari Jawa kayaknya, yang sedang makan di tengah jalan. Hahahaha, maaf ya bapak-ibu, kami mau lewat, makanya jangan menggelar tikar di tengah jalan hihihihi. Ternyata mereka tidak tau kalau masih ada pemandangan indah di balik bangunan itu dan mengira perjalanan berakhir disitu saja, hehehehe…

daaaaan, masih bersambung 😛

Advertisements

11 thoughts on “19022012 part 2 – Tanjung Ringgit

  1. “tapi kalau saya sih yang pentung jangan corat-coret dan buang sampah sembarangan.”

    typo itu sepertinya kaka, yang penting kaleee… hahahaha..
    saya ikut dong neng bertualang menembus hutan bersama mas samin yang masih single. hohohoho.. *genit*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s