catatan hati seorang front officer – tentang hal itu

Ummm… Akhir-akhir ini sepertinya kasus korupsi di Ditjen Pajak merebak lagi. DW oleh media disebut-sebut sebagai the next GT. Di bawah ini hanyalah beberapa tanggapan bodoh saya.

sumber dari sini
  1. DW juga mempunyai usaha sampingan selain menjadi PNS. Dalam PP pasal 3 ayat 1 PP Nomor 30 tahun 1980 tertuang larangan pegawai yang dalam aturan itu mengatakan, untuk PNS golongan III/d ke bawah diperbolehkan melakukan bisnis lain tetapi harus seizin Menteri atau pejabat yang berwenang. Sementara untuk golongan IV/a, tidak diizinkan sama sekali untuk membuka usaha lain. Namun perlu menjadi catatan bahwa dalam PP 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS larangan tersebut dicabut dan pada penutupnya disebutkan bahwa dengan berlakunya PP 53 tahun 2010 ini, maka PP nomor 30 tahun 1980 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Jadi, PNS yang mempunyai usaha tidak melanggar aturan. Masih ada kemungkinan bahwa transaksi keuangan dalam jumlah besar di rekening DW itu berasal dari usahanya, bukan dari hasil korupsi. Di sini saya tidak membela atau menyalahkan siapa pun. Negara kita menganut asas praduga tak bersalah, jadi sebaiknya kita tidak menjatuhkan vonis bersalah hanya berdasarkan pemberitaan media saja, sebelum meja hijau berkata memang dia bersalah. Okelah kalau nanti ketahuan dia memang salah. Kalau ternyata tidak? Berarti yang bilang dia salah telah memfitnah kan? Media juga kadang memiliki kepentingan politik dimana bisa saja mereka sengaja membesar-besarkan suatu kasus hanya untuk pengalihan isu demi kepentingan politik pihak tertentu.
  2. Bagi orang-orang yang memilih untuk tidak mau membayar pajak daripada uang pajaknya dikorupsi pegawai pajak, menurut saya dia malah belum pernah membayar pajak. Karena setiap orang yang pernah membayar pajak pasti tahu bahwa uang untuk bayar  pajak itu disetor melalui bank/kantor pos persepsi, sedangkan di kantor pajak (KPP) hanyalah pelaporannya saja dan petugas pajak sama sekali tidak menerima uang karena pelayanannya gratis. Jadi tidak mungkin “uang pajak dimakan orang pajak”. Untuk kasus seperti GT, dia bukan menggelapkan uang pajak, melainkan menerima “insentif” dari perusahaan2 nakal yang berusaha mencurangi jumlah pajak yang seharusnya mereka bayarkan.
  3. Na, yang paling bikin saya emosi, ada yang mengatakan bahwa STAN adalah sekolahnya koruptor dan semua lulusannya bermental korup. Perih banget hati ini rasanya. Bagi yang berpikiran seperti itu, tau nggak sih kalau anda telah memfitnah ribuan orang? Astaghfirullah. Males banget saya sama orang yang sok tau bener kalau “alumninya suka korupsi”. Perlu diketahui bahwa Pegawai Kementerian Keuangan, termasuk Ditjen Pajak, tidak seluruhnya adalah alumni STAN. Jadi kalau ada yang berpendapat bahwa “orang-orang kemenkeu suka korupsi, bubarkan saja STAN” anda salah. Setiap tahun kemenkeu menerima CPNS dari penerimaan umum lho. Terus juga, jangan karena ada beberapa oknum yang korupsi, satu almamater kena semua begitu lah. Kenapa juga kalau yang korupsi alumni STAN selalu diblow-up besar-besaran? Bagaimana dengan Malinda Dee, Nazarudin, Angelina Sondakh, kenapa kok sekolah mereka tidak dibawa2? Indikasinya sih ada pihak-pihak yang ingin mendiskreditkan STAN, makanya jika ada kasus korupsi begini, blow up-nya besar2an. Iri ya nggak lolos USM STAN? Hehehehe… Katanya kan STAN memang mau dibubarkan, saya jadi bertanya-tanya bagaimana kalau nantinya STAN jadi bubar beneran? Pasti banyak yang komentar bubar karena kebanyakan koruptor. Lucu banget deh, kalau mau membunuh kecoa, ya bunuh kecoanya, jangan dibakar gudangnya. Jangan samakan semua alumni STAN dengan GT, karena di STAN sama sekali tidak diajarkan tentang cara korupsi. Masalah mau korupsi atau tidak itu kan tergantung individunya masing-masing.

Saya sih berharapnya kita semua menjadi masyarakat cerdas yang tidak menelan mentah-mentah semua yang dikabarkan media yang memang bisa menjadi sangat persuasif, tidak menjudge suatu instansi hanya karena beberapa oknum. Tapi kayaknya masyarakat memang lebih suka berita buruk daripada yang baik. Nyatanya berita tentang prestasi2 unit2 pemerintah tidak pernah kan sampai booming begini? Hehehehe…

Hufff, susah juga ya nulis serius begini, kayak nulis KTTA aja hahaha.. Oiya, saya bukan pegawai pajak, tapi hampir setiap hari ngitung pajak 😛

Advertisements

27 thoughts on “catatan hati seorang front officer – tentang hal itu

  1. setuju banget cha.
    orang Indonesia ini emang gampang banget terpengaruh sama opini media.
    dasar media di negara ini juga masih belum independen, masih mengutamakan kepentingan pihak tertentu.
    ya wislah,yang penting kita tetep husnudzon selama belum ada ketukan palu.

    btw, saya juga bukan pegawai pajak tapi tiap hari berhadapan dengan tumpukan SSP..
    🙂

    • ya kan yang punya kantor berita juga orang-orang seperti itu nin hehehehe…
      pinter-pinternya kita aja menyaring informasi mana yang bener mana yang salah.
      bener, semuanya itu kan belum dibuktikan dia kaya sumbernya dari mana. bahkan kadang yang ngetuk palu juga bisa salah (nyrempet kasus AIS) hehe
      saya juga tiap hari nyeplit SSP hohohoho 😀

  2. setuju banget mbak, terutama dgn kalimat “Media juga kadang memiliki kepentingan politik dimana bisa saja mereka sengaja membesar-besarkan suatu kasus hanya untuk pengalihan isu demi kepentingan politik pihak tertentu.” Keliatan banget kali yaa ngalihin kasusnya demo****.

    • naaa, gitu deh. udah banyak kok contohnya, seperti kasusnya bu SMI kan juga pengalihan isu tuh dari lawan2 politiknya.
      karena perannya media itu kan besar sekali dalam mempengaruhi opini publik
      yang masih di STAN, sabar ya hehehe 🙂

  3. caa, tulisanmu kali ini abot.. hehehe

    emang iya cha, harusnya diselidiki dulu kan sampe ada bukti yang meyakinkan.. jangan gara-gara orang pajak, alumni stan, langsung aja dicap ini itu..
    perasaan banyak tuh koruptor yang bukan orang kemenkeu maupun lulusan stan.. kok ga pernah di blow up y kampusnya??
    sensi banget sih sama STAN

    • iyo ki tumben mel, hehehehe
      na, aku mikirnya gitu juga mel, pengennya walaupun ada oknum-oknum yang seperti itu, jangan lantas dicap semua lulusan STAN semua adalah koruptor
      sebel kan, udah penempatannya jauh, dicap koruptor lagi, hehehe

  4. STAN itu salah satu harapan untuk anak- anak dari daerah non Jabodetabek, untuk bisa mendapatkan pendidikan, serta sekaligus peluang untuk bisa meraih masa depan yang lebih luas pilihannya.

    Pilihan untuk melakukan mobilitas sosial maksud saya, tentunya dipengaruhi oleh kualitas didikan almamater, jaringan alumni, serta reputasi almamater sebelumnya, dan STAN punya itu semua. Artinya, memang tidak bisa pars pro toto menyamakan kasus korupsi pajak dengan institusi STAN yang telah mendidik para tersangka tersebut, tapi yang sebaiknya dipahami, bahwa label STAN sebagai institusi yang mendidik para birokrat di area perpajakan, sangat kuat kebesarannya.

    Terus terang, nama STAN memang besar, dan nama besar itu punya sisi lain, yaitu jika ada kasus kecil yang nampak dilakukan oleh oknum tertentu, maka dengan mudah STAN akan dituding, kenapa ? Karena nama besar yang menjulang, sangat gampang diingat untuk dituduh juga 🙂

    Saya dulu diterima di STAN, Akuntansi, tapi tidak jadi diambil, karena masuk juga di salah satu institut teknologi di Bandung. Tapi, sekali lagi, STAN adalah tumpuan banyak anak muda Indonesia, untuk meraih impian masa depannya.

    Anda adalah mahasiswa STAN, mohon jaga nama baik almamater Anda, dengan karya- karya yang konstruktif, kedepannya.

    Sukses 🙂

    • iya mas, yang saya pahami begitu juga. kalau pandangan orang awam kan memang “sudah disekolahin gratis, masih aja korupsi”, saya juga mengerti hal itu.
      tapi disini, kalau ada yang langsung menuduh bahwa semua lulusan STAN begitu, secara langsung dia telah menuduh banyak orang kan? itu yang saya nggak suka.
      kami juga sebel kok sama koruptor, apalagi yang mencoreng nama sekolah kami, makanya itu banyak anak STAN yang tidak terima kalau digeneralisasi sebagai koruptor, karena -sekali lagi- kami juga benci koruptor 🙂
      terima kasih masukannya mas, dan Insya Allah saya tetap menjaga nama baik almamater saya 🙂

  5. cie cie cie. . . . jadi pengamat nih ceritanya cha. . . . . memang si media yang penjadi penyalur informasi yang bersifat netral terkadang memberitakan suatu hal secara sepihak.. dalam artian pemberitaan tidak berimbang antara persalahan yang bermunculan dengan prestasi yang diraih. . . tapi tak jarang juga kok pemberitaan tentang prestasi-prestasi. . . anggap aja pemberitaan oleh media menjadi sebuah evaluasi untuk bisa memperbaiki kesalahan2 yang ada. . . .

  6. Bagi saya pelaku kejahatan maupun orang yang menuduh orang lain berbuat jahat –dalam arti belum terbukti, tapi sudah menghujat habis-habisan– keduanya sama saja jahatnya.

    I try to be objective.

  7. saya setuju poin pertama, jangan- jangan ini untuk menenggelamkan isu politik yang sedang marak belakangan ini. Hehe

    salam kenal. Saya suka slogannya ‘two better than one: 😀

  8. setuju banget sama azas praduga tak bersalah. fitnah lebih kejam dari pembunuhan itu benar. mungkin kalo dibunuh, selesailah riwayat korban yang ga akan denger macem-macem lagi. tapi kalo difitnah??? udah mah ga enak sama temen, tetangga, gimana perasaan orangtua? 😦
    sebagai teman masa kecil istri DW, emang dari kecil dia udah kaya kok…(yang ini emang bela-in). miris juga melihat nasib keluarga mereka. semoga mereka bisa melalui semua ini. semoga hakim yang adil masih ada di negeri ini. aamiin. jika DW tidak bersalah, pulihkan nama baiknya tapi jika ternyata memang salah, biarkan hukum negara yang mengaturnya.

    • “jika DW tidak bersalah, pulihkan nama baiknya tapi jika ternyata memang salah, biarkan hukum negara yang mengaturnya.”
      setuju mbak 🙂
      sebelum menghujat kan seharusnya tau pastinya dulu

  9. Super sekali curhatnya
    saya jg bagian dr stan, sya mahasiswa tngkt akhr kebendaharaan negara yg sdang pkl. Sebel bgt klo denger media yg menggeneralisasikan smua alumni stan bermental korup, lgian mana ada sekolah yg mengajarkan u/ korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s