Mabok Darat: Air Terjun Benang Setokel dan benang Kelambu

Kata siapa Lombok cuma punya pantai aja? Di pulau ini juga ada wisata hijau-hijau lho. Banyak wisata air terjun yang bisa kita kunjungi. Beberapa waktu yang lalu saya main ke air terjun karena sudah bosan main ke pantai. Bohong deng, saya mah nggak akan pernah bosen main ke pantai. Kenapa? Karena bagi saya pantai dan laut — ah sudahlah. Fokus chachu, fokus…

Jadi perjalanan mencari harta karun kali ini cukup memabukkan. Bagi saya. Seperti biasa pagi2 saya makan mi dulu, trus beli ciki, permen dan air mineral buat bekal perjalanan. Tidak lupa malem sebelumnya saya beli sendal baru dan menunda jadwal creambath. Sebenernya cerita apa sih kamu chu? Nah, setelah siap ternyata pas sampai di kantor, ternyata sopir idola kami buat jalan2 karena tangguh menghadapi semua medan, ga bisa dateng karena sakit punggung. Akhirnya kami menculik sopir kantor buat nyetirin, padahal beliau lagi jaga. Eh, bentar2, kayaknya itu jalan2 pas lain hari deh. ah lupa, sudahlah *disambit sendal*. Yang pasti perjalanan kali ini kami dipilotin sama Pak Ahmad, sopir kantor yang baik hati dan pendiam (karena kami ngobrol pake bahasa Jawa dan beliau nggak ngerti hahahaha). Formasi hari itu cuma berempat, karena si Nini lagi diapelin suaminya jadi ga ikut hihihihi…

Sebenernya jalannya nggak susah-susah banget sih ditemukan. Tapi disinilah terjadi miskom antara kami dengan Pak Ahmad. Kami, lebih tepatnya Mas Wahyu (iya, iya, saya nyalahin orang lain, secara mas wahyu adalah satu2nya dari kami berempat yang pernah kesana, mwahahahahaha), bilang kalau kami mau main air dan mandi2, atau kalau orang Enggris bilang jeguran, di Aik Bukak, tanpa menyebut tempat spesifik yang akan kami datengin. Seharusnya, pas di sebuah pasar di daerah sana (saya lupa nama pasarnya, pelancong amatir hehehe), kami belok ke kiri. Tapi ternyata Pak Ahmad mengambil jalan lurus dan baru belok kiri setelah melewati tower. Disitu Mas Wahyu berkomentar, “Wah ini jalannya bagus yah, yang saya lewatin kemarin ampun dah hancur parah…” Dan masih belum timbul kecurigaan di antara kita. Setelah sampai tujuan, ternyata tempat parkirnya berbeda dengan yang Mas Wahyu dulu datangi. Oh, mungkin ini tempat parkir yang lain, pikir kami yang lugu ini. Setelah membeli tiket seharga tiga ribu rupiah saja, kami pun masuk ke tempat tersebut. Dan ternyataaaaa *pasang efek petir* tempat tersebut adalah kolam renang, saudara2. Hakdes*tepok jidat*. Kolam renang yang penuh dengan keceriaan anak2 jejeritan dan bermain air. Kami pun kembali ke parkiran dengan masygul, dan tertawa geli-geli gimanaaa gitu. Setelah itu barulah kami bilang ke Pak Ahmad kalau kami maunya ke air terjun paaaaak *ukir2 tanah*.

Kemudian, perjalanan kami pun dilanjutkan. Sampai di tower tadi, untuk menuju pasar harusnya belok kanan kan yah, tapi ini kami malah belok kiri. Saya udah ngingetin loh suwerrrr, “Mas, ini bukannya kalo ke pasar belok kanan?”  dan dijawab, “Iya, kalo kita balik ya beloknya ke kanan.” Lalu saya pun diam. Setelah jalan agak jauhan, baru ada yang tanya ke Pak Ahmad, “Pak ini kita lewatnya bener sini ya? Bukan lewat pasar tadi?” *kemudian hening*. Pak Ahmad puter balik, teman2 saya diam merenung memandang keluar jendela, saya makan ciki. Singkat cerita (iya, iya ini nggak singkat), kami berhasil kembali ke jalan yang benar dimana jalan tersebut adalah jalan kehancuran yang disebut Mas Wahyu tadi, yang ternyata tidak sehancur jalan ke Pantai Mawun. Dan kami terbantu dengan adanya mobil travel di depan kami, jadi ngekor saja. Setelah sampai di parkiran (kali ini bener) keluarlah segerombolan turis bertopi koboi dari mobil travel di depan kami tadi *info nggak penting*.

Kami pun langsung mulai jalan menuju lokasi air terjun yang paling dekat, yaitu benang setokel. Tidak lupa membeli cilok dulu buat nyemil di jalan. Saran saya, katakan dengan jelas dan keras berapa yang mau kalian beli, karena saya udah bilang beli cilok tiga ribuan empat plastik, dikasihnya yang seplastik lima ribu. Hah. Setelah menuruni beberapa puluh anak tangga curam dan menyeberang sungai kecil, kami sampai di Benang Setokel yang menurut saya, well, agak mengecewakan tidak sesuai ekspektasi. Mungkin gara2 saya udah capek hati nyasar2 terus, atau karena rameeee banget. Sedangkan saya mendambakan wisata yang mengademkan hati, bukan mendengar jejeritan anak2 hahaha. salah kami juga sih pilih waktu pas libur sekolah.

Disitu ada dua air terjun. Posisi kita persis berada di bawahnya. Jadi kalau mau bertapa di bawah terpaan air terjun ala film2  kungfu sih bisa hehehe 😛 Sayangnya rame sih, jadi males deh mau nyemplung. Ada bule2 pada mandi juga lho. Karena mau poto air terjunnya doang tetep bakal ada pengunjung yang katut (apa sih bahasa indonesianya katut?), jadi saya pamerin poto narsis aja ya 😀

benang setokel bareng

Nah di situ kami sebentar aja cuman poto, dari situ kami lanjut ke Benang kelambu. Ada dua jalan untuk menuju ke Kelambu. Yang pertama, kita bisa kembali ke parkiran dulu dengan cara menaiki tangga yang curam2 tadi, atau lewat jalan pintas yang lewat hutan. Karena males naik tangga, kami pilih lewat jalan pintas yang ternyata naiknya lebih curam banget. Berikut liputannya.

setokel-kelambu

  1. jalan dari parkiran ke Benang Setokel
  2. mampir dulu membeli cilok, wajah penjual sengaja ditutupi demi menyembunyikan identitas penjual cilok yang memberi pesan moral. Gambar sebelah 2 atasnya 7 (lupa ga dinomerin): dari benang setokel, kalo lurus trus naik belok parkiran, kalo belok kanan jalan pintas lewat hutan.
  3. Chachu ditanya, “Yakin mau lewat sini? Nanjak banget loh” dan dijawab chachu, “Yakiiiiin, udah jogging setiap hari juga…”
  4. jalan menanjak sekali lalalala…
  5. istirahat, dan masih harus menanjak banget lagi. Disini saya mulai pusing.
  6. merasa berkeringat dingin, pusing dan mual, saya minta ijin, “Kalian hadap sana, saya mau muntah dulu ya”. *kemudian muntah* beneran iniiiii. Yaampun malu2in banget deh gitu doang muntah, katanya mau naik rinjani wkwkwkwk… Ternyata yang saya muntahin cuman cilok dan ciki yang belum turun sampai ke perut. hadeeeeeh *kemudian lemas*
  7. sedah sehat lagi setelah muntah. setelah jauuuuuh mendaki gunung lewati lembah kita akan menuruni banyak anak tangga yang sangat curam2 sekali untuk sampai ke Benang Kelambu, lebih curam daripada yang di Setokel tadi. Udah lemes duluan bayangin ntar naiknya gimana. sekian.

Hah, begitulah. Saya nyesel banget kenapa pake acara meriang di hutan segala. Dijalan ini kami juga bertemu anak2 yang sedang memanjat pohon nangka yang seneng banget dipotoin, nagih malahan. Hehehe… Terus sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan hijau yang menyegarkan mata yang bosen liat layar monitor setiap hari. Nggak ada mall, nggak ada asap metromini, hanya udara bersih dan pepohonan rimbun 😛

DSC_0071 DSC_0070

Setelah capek jalan, begitu sampai di Kelambu, saya cuma bisa bilang “Asiiiiik” dan segera berlari ke sungai melupakan capek dan meriang yang sudah ditinggal di atas. Air terjun Benang Kelambu berbeda dengan air terjun yang lain. Puncak air terjunnya tersembunyi di antara rimbunnya dedaunan. Airnya tercurah tipis dan melebar (ngerti nggak maksudnya? hehe), sehingga menyerupai tirai. Pantesan aja namanya Kelambu :D. Di bawah, air yang jatuh membentuk kolam2 kecil bertingkat yang asik banget buat main air. kalo aja nggak rame, bisa jadi bathtub alami dari alam deh itu hehehe…

This slideshow requires JavaScript.

Air yang jernih membuat saya dan teman2 kesenengan main air dan males pulang. Iya deh, sebenernya males naik tangganya hehehe… Hari itu rame banget di kelambu. Banyak abege2 sobat dahsyat yang berkunjung, entah itu beneran mau main air atau cuman alesan buat mojok sama pacar wakakakak… Yang pasti, benang kelambu ini worth it lah dibandingkan sama perjalanan yang harus kita tempuh. Seger banget, apalagi kalo habis pulang langsung creambath *eh*. Setelah puas main2 air dan duduk2 pose galau, kamipun pulang lewat jalan lain yang lebih bagus, tidak begitu menanjak tapi lebih jauh, dan langsung ke parkiran. Saran saya, kalau males jalan naik turun, mendingan dari parkiran cari tumpangan motor aja, soalnya jalannya bisa dilewatin motor sampai sebelum mulai menuruni anak tangga.

Pesan moral dari perjalanan ini adalah, jalan makan ciki dan cilok sekaligus sebelum berjalan kaki naikk turun. Karena kami berempat mengeluhkan si cilok yang nggak turun2 ke perut sehingga nggak enak buat jalan naik, dan khusus saya sendiri, makan ciki nggak bagi2 lalu makan cilok bisa mengakibatkan mual2 jikalau dibawa lari2.

Ya kemudian saya mau mohon maap kalo tulisan saya kepanjangan tapi kurang informatif, atau potonya nggak bagus. Karena sebagai mantan anggota komunitas fotografi mahasiswa kampus saya merasa gagal *melipir*. Cheers 😛

Advertisements

4 thoughts on “Mabok Darat: Air Terjun Benang Setokel dan benang Kelambu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s