Bunsay Level 11 Day 10: Percaya Diri Mendidik Seksualitas Anak di Era Digital

Kelompok 10: Fasta, Nika, Erna, Ajeng

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaan

1. Yani
Mba, bagaimana ya menjelaskan ttg seksualitas kepada anak sesuai usia, krn kan selama ini dianggap tabu ya… adakah referensi yg bs digunakan?

Terima kasih mba Yani utk pertanyaannya.
Sblm menjawab, izin menyamakan pengertian seksualitas ya.
Seksualitas bknlah tentang seks, melainkan dapat berupa pengenalan gender, pemahaman pubertas.
Pengenalan gender dpt dilakukan sejak usia dini spt: Adik perempuan spt Ibu, kl pipis di toilet perempuan ya.
Pemahaman pubertas misal kita bs masuk ketika anak2 bertanya.
“Ma, knp di ketiak Mama ada rambutnya?”
“Ini salah satu tanda perubahan dr anak-anak menjadi dewasa, Dek. Nanti Adek juga akan tumbuh rambut di ketiak jika umurnya sudah menuju dewasa.”

Tambahan contoh percakapan orangtua-anak:
“Dulu waktu Ayah kecil, Ayah penasaran tentang……….. Waktu itu Ayah tidak bisa bertanya ke siapa-siapa soal ini, malu. Ayah baru tahu pas sudah SMA. Sekarang kalau kamu merasa penasaran soal sesuatu, tanya saja sama Ayah. Ayah janji tidak akan marah sama pertanyaan-pertanyaan kamu πŸ˜ŠπŸ‘ŒπŸ»”

betul Mbaaa… terima kasih jawabanya πŸ€—
misal ke usia lbh lanjut, bertanya ttg mimpi basah, tentang perasaan ke seseorang, ttg gimana proses reproduksi sehingga ada anak…
usia baligh ini sih yg kepikiran bgt jd PR, adakah referensi yg ba dishare dlm menjawab tantangan2 yg sering dianggap tabu itu?

Jika anak bertanya, kita tenang dl, kendalikan diri, tarik nafas, dan cek pemahaman anak.
Lalu kita bs menjawab dg jawaban terbaik saat itu, tanpa dilebihkan atau dikurangi. Kemudian jika anak masih ingin tahu, baru kita memperbolehkan bertanya lg.
Referensinya ada di salah satu sumber bacaan kami:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2154055457954961&id=221502844543575

2. Yunita
Bagaimana cara menjauhkan anak-anak dr pornografi ketika sedang memegang gadget terkait fitrahnya? Terkadang anak melihat gadget temannya yang tidak diawasi ortunya di sekolah dan anak tanpa sadar telah menonton pornografi.

  1. Yang paling utama adalah menanamkan pemahaman tentang agama sedini mungkin. Dalam hal ini mengajarkan agama tidak sekedar anak menjadi bisa, misal bisa baca/hafal alquran, orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu
  2. Menguatkan bonding antara orangtua dan anak seperti yang pernah di bahas di presentasi2 sebelumnya. Menjalin dan menjaga bonding dengan anak ini sangatlah urgent karena dengan ikatan yang kuat anak akan bisa lebih ‘mendengarkan’ orangtua
  3. Dengan nilai agama yang baik dan bonding dengan org tua yang baik pula diharapkan anak sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk
  4. Kehidupan anak diluar ketika jauh dari orgtua bukanlah ‘kuasa’ kita untuk mencegahnya. Selain tentunya berdo’a ke Allah agar anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal buruk dan menjerumuskan, ikhtiar kita membangun value ke anak semoga dapat membuatnya lebih bijak dalam mengambil apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk

3. Tary
Bagaimana jika anak sudah terlanjur terpapar pornografi?πŸ˜”

Berikan pemahaman bahwa yg sudah ia lihat tsb bukanlah hal yg baik. Misal:
“Ma, td aku lihat video orangnya tdk pakai baju.”
“Wah, Adek lihat dimana?”
“Di HP temen waktu istirahat sekolah tadi.”
“Apa yg sdg orang di video tsb lakukan, Dek? Koq ga pakai baju.”
“Iya, td Adek lihat yg laki2 buka pakaiannya di depan perempuan.”

Duh, naudzubillah min dzalik (sambil elus dada) 😭

Tenang dl Bun, tenang. Lalu kita jawab:
“Wah, ga boleh itu Dek, kita lihat video spt itu. Adek aja kl buka baju menyembunyikan diri kan ya dr orang lain. Lain kali tdk boleh lg lihat video spt itu. Kl diajak teman, jgn mau lagi. Adek main sama teman lain yg baik saja. Atau lapor Bu Guru.”

Kita jg bs komunikasikan dg gurunya di sekolah, Mba

Menurut kami yang perlu dilakukan awalnya adalah tetap tenang…………………………………………………
kemudian ajak diskusi hangat, minta anak menceritakan pengalaman dan pendapatnya dan kita dengarkan seutuhnya, dengarkan dan dengarkan, kemudian bisa ingatkan dengan ‘value’ agama dan ‘value’ keluarga, jelaskan konsekuensi dari paparan pornografi dan ‘value’ yang tidak terjaga, untuk kasus paparan pornografi yang sudah berat jangan ragu untuk berkonsultasi ke ahlinya (psikolog dan tenaga ahli lainnya)

4. Marisa
Era digital ini mempunyai 2 sisi. Baik dan buruk. Sehingga saya sebagai orangtua terkadang merasa parno. Apakah mengizinkan anak mengakses internet atau memberi batasan (misal saat ini anak boleh mengakses internet, hari sabtu dan minggu. Maksimal 1 jam). Padahal temans sebayanya sudah diberikan fasilitas internet tanpa batas.
Saya ingin bisa disiplin, namun dengan kasih sayang kepada anak. Memberi batasan yang tegas, tanpa terkesan kaku dan galak kepada anak.
Kiatnya bagaimana ya ?
Maaf kepanjangan.

Betul mba, ada 2 sisi mata pisau ya dan kita orangtua musti aware.
Kebijakan mba marisa membatasi penggunaan gadget kami rasa sudah merupakan bentuk ‘sayang’ ke anak, kembali lagi ke ‘value’ yang ada di keluarga mba Marisa 😊
Mungkin keluarga lain memiliki ‘value’ yang berbeda, dan bisa jadi berpotensi mempengaruhi ‘value’ anak kita ketika berada di lingkungan teman2nya
Mungkin yang bisa jadi pertimbangan adalah seperti jawaban poin 2⃣ di atas mba sebagai bentuk ikhtiar kita membangun imun anak mengambil hal baik dan meninggalkan yang buruk. Karena suatu saat memang mereka akan memiliki kehidupannya sendiri, berjuang sendiri di luar sana tanpa ada kita orangtua di dekatnya 😒 *jd melow

Sedikit tambahan..
Mengenalkan batasan kepada anak sangat penting agar anak dapat mengetahui hal yang boleh dan tidak…tentunya harus disertai dengan penjelasan..

Misal:
Gadget hanya boleh 1 jam saja agar kesehatan mata terjaga lalu anak bisa dialihkan untuk kegiatan lain
Dan yg terpenting stl diberikan penjelasan, batasan tsb disepakati semua pihak.
Kita jg sbg ortu hrs konsisten. Tegas bkn berarti tega/tdk sayang

5. wenti
Terima kasih materinya. Mau tanya ya. Menurut kelompok 10, kepercayaan yg seperti apakah yg bisa diberikan kepada anak dalam menghadapi era digital? Terutama jika kelak anak sudah aqil baligh, masuk usia remaja dan mengenal sosial media atau whatsapp misalnya. Apakah meminta password sosmed anak atau ngecek hpnya diam2 adalah sesuatu yg baik?

Bagaimana mengarahkan anak agar menggunakan sosmed dg bijak? Krn sekarang saja banyak sekali trend tak penting yg dilakukan remaja di media sosial. Dan anak bs terlanjur ikut ikutan sekalipun buat iseng.

Memberikan kepercayaan tentunya stl kita menanamkan value yg baik dlm keluarga ya mba. Boleh keluar rumah (tdk diam di rumah saja), bergaul dg berbagai macam orang, sampai rumah apabila anak bercerita kita dengarkan terlebih dahulu (tdk menjudge). Memperbolehkan punya gadget/media sosial sesuai usia. Misal FB min 13 tahun. Izin meminta password bila diperbolehkan atau saling berteman, jd kita tahu apa yg di-post anak. Kl diam2 sebaiknya jgn. Hargai privasi anak. Kl mau ngecek buka password yg sdh diberikan, blg dl.

Bgmn mengarahkan spy bersosmed yg baik?

  1. Jdlah teladan, ortu jg harus bijak terlebih dahulu dlm pemakaiannya.
  2. Beritahu apa sebaiknya yg boleh dan tdk boleh di-post. Misal yg tdk boleh di-post: no telp, alamat lengkap, dsb
  3. Tetap memantau. Jika ada post yg tdk baik, bertanya dl maksud post-nya, dan berikan pengertian post tsb tdk baik

6. yopi tessa
Bagaimana kalau anak dirumah sudah dibatasi dlm gadget.
Tapi ternyata diluaran, suka ke warnet, main game, krn teman2 pada seperti itu. Sudah bbrpa kali diberikan pengertian, malah sembunyi2. Bagaimana menyikapinya? Anak usia 11 tahun.

  • Diberikan alternatif kegiatan positif yg lain. Bs mengaji olahraga, musik, seni, dll
  • Dikuatkan family time-nya. Atau misal kegiatan dg salah satu orang tua: nge-game sama Ayah tp game yg bermanfaat, didampingi saat main game

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Kesimpulan

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, terutama tentang seksualitas dan di era digital ini anak-anak dapat dengan mudahnya mencari informasi, sehingga rentan mendapatkan informasi yang salah atau yang tidak sesuai dengan tingkat pemahaman dan umurnya. Sedangkan orangtuanya masih tabu dan kelu untuk membicarakan seksualitas.

Memang, bicara seputar seksualitas dengan anak adalah momen yang sangat canggung tetapi pengetahuan seksualitas yang mumpuni dan keluar dari tabu adalah modal awal orang tua untuk menjelaskan tentang seksualitas.

Pastikan bahwa kita orang tuanya adalah sumber pertama dan utama yang siap menjawab dengan pengetahuan yang benar dan terpercaya anak dalam memahami seksualitas.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

 

 

Advertisements

Bunsay Level 11 Day 9: Lingkungan dan Fitrah Seksualitas Anak

Kelompok 9: Erlina, Ika Peronika, Tri. File pdf disini

Bismillah.
Kami dari kelompok 9 akan share terkait Lingkungan yang menjadi salah satu faktor menumbuhkan fitrah seksualitas. Mari kita Mulai dengan berdoa teman-teman.

Baiklah, kita mulai dengan pengertian fitrah seksualitas.

  • Ust. Harry Santosa
    Fitrah Seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati
  • Elly risman
    Fitrah seksualitas adaah bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. proses pembentukannya sangat bergantung kepada kehadiran dan kedekatan orangtua terhadap anak.

Read More »

Bunsay Level 11 Day 8: Keseimbangan Peran Orangtua dalam Pengasuhan Berkaitan dengan Maraknya LGBT

Kelompok 8: Dilla, Nares, Tary, Yesi
File PDF ada disini

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaan

1. Ika
Kalau penyebabnya faktor genetik gitu, apakah bisa di obati teman-teman?

Jawab :
🐾Di beberapa riset, ada intervensi terapi hormon di saat anak usia tertentu. Ada juga yang operasi modifikasi kelamin kalau ternyata hormon dominannya bukan yg sesuai tampilan badannya. Karena ada kasus anak2 yg dari kecil sudah merasa mereka LGBT

🐾Pendidikan agama yg ajeg
Pernah ada kasus dmn ada bawaan gay dr lahir tp krn dia dididik agamanya baik oleh orang tuanya, dia berusaha melaawan hasrat itu (walau berat)

2. Fara
Untuk case LGBT, karena faktor genetik, apa penyebab nya?
Adakah, deteksi dini yang bisa dilakukan?
Apa do dan don’t nya untuk ibu hamil?
Tadi baca : baru, tidak bikin stress ibu hamil aja

Jawab :
Sejak 50-60 tahun sudah ada berbagai riset tentang genetik mempengaruhi kemunculan homoseksualitas pada seseorang.. Hanya saja hasilnya tidak bisa generalisir.
Yg pernah diteliti adalah kelebihan atau kekurangan hormon androgen pada Periode gestasi awal (hamil muda). ada sindrom CAH (liat di slide) yang bisa dideteksi karena ada ciri2 tertentu yang mungkin muncul(mungkin juga tidak/tersamar).
Yang kami belum tahu adalah apakah di Indonesia, ahli fetomaternal melakukan check up sejauh itu.
Do and Dont nya.. sebenarnya sudah ditulis di solusi.
Yang utama adalah menyediakan lingkungan minim stres selama promil. Memang kadang tidak ideal untuk sebagian orang, tapi minimal kehamilan tsb adalah sesuatu yg memang diharapkan, bukan yg unplanned dan unwanted

3. Irma
Berhubung anakku perempuan dan laki2.. Bagaimana cara mengantisipasi agar adek ga kecederungan mainan kakaknya yg cwe dan sebaliknya.. Soalnya biasanya si adek ikut2an si kakak mainnya..
Minta tips2nya ya.. Klo ada rekomendasi mainan atau tontonannya jg boleh..

Jawab:
Pisahkan mainan pribadi dan mainan bersama.
Misal mainan pribadi anak cewe : barbie/boneka cewe
Misal mainan pribadi anak cowo : thomas n friends
Utk mainan bersama: Beli mainan yg warnanya netral, skrg banyak juga mainan masak2an/sapu2an/kasir2an yg netral warnanya.
untuk video sudah kami tanpilkan di pdf akan kami share kmbali disini

4. Nilla
Bagaimana cara menghindari LBGT pd anak2 saat berinteraksi dengan tmn sebayanya ?

Jawab :
Dari awal sudah diinfokan jenis kelamin apa si anak, dan jenis kelamin apa si temennya.
Dikasih tau apa itu aurat dan batas2an apa yg boleh dilakuin kalo main sm yg beda jenis kelamin (cth : tidak boleh bersentuhan berlebihan, tidak boleh memperlihatkan aurat kepada siapapun)

5. Firsty
misalkan contoh kasus anak yg sudah terkena sexual abuse, kasusnya dilecehkan sama org dekat, tapi dia simpen dan seolah baikΒ² aja, sampe saat nya anak itu dewasa dan berkeluarga apakah berdampak sama khidupan berumahtangganya?

Jawab :
🐾Sexual abuse itu biasanya tertanam dalam..
Gak ada istilah baik2 saja klo kena pelecehan seksual. Mereka biasanya tidak membicarakannya karena takut distigma negatif padahal mereka yg jd korban.

🐾Tergantung dr pribadinya. Trauma itu pasti karena pelecehan itu menyakitkan lahir batin.
Inilah pentingnya bonding antara ortu dan anak agar anak terbuka sm ortu. Disaat anak ada perbedaan perilaku si org tua bs melakukan pendekatan dan probing.

🐾Bisa ya, bisa tidak. Beberapa teman saya mendapatkan pelecehan seksual di masa kecilnya, bahkan ada yang dilakukan oleh oknum dokter gigi yang tiap bulan harus dia kunjungi,tapi Mama nya tidak menunggu di dalam, di saat ia menikah, ia sudah bisa memaafkan semua masa lalunya,tanpa ortunya tahu. Tapi memang si anak punya konsep diri yang sangat positif sejak kecil, self esteem nya kuat.

6. Yopi Tessa
Berhubung anakku laki2 4tahun suka liat bundanya dandan. Seringkali pengen minta lipstik, bedak, parfum dll. Pernah lipstik bunda dipake, sembunyi2… atau pake bedak dipojokan.
Itu bagaimana menyikapinya… khawatir jg..

Jawab :
Anak laki2 usia 4 tahun biasanya mencontoh perilaku ibunya. Kita amati saja apakah pure hanya bermain, atau jdi kebiasaan yg tidak wajar.
Diingatkan kembali apa kelaminnya, apa yg boleh dilakukan anak laki-laki dan yg tidak boleh. Lalu diberikan contoh.
Misal : “anak laki-laki tidak boleh pake makeup, liat deh ayah, paman, om, kakek tidak pake lipstick… Kamu laki-laki kayak ayah, paman, om, kakek, jadi tidak pake lipstick ya…”
Bisa jg kasih visualisasi wanita2 yg pk make up dan laki-laki yg tidak pake make up
Bila Ayah dirumah, ayah dapat mendampingi lebih banyak di waktu2 1821 atau wiken. Supaya seimbang role model laki2 dan perempuannya

7. Tya
Anak saya laki2 7thn, saat ini dia belum pernah bertanya. Tapi apabila dia melihat banci, khawatir dia bertanya itu laki2 atau perempuan, bagaimana saya menjawabnya ? πŸ€” harus sesuai fakta atau sesuai penampilan dan tingkah laku ?

Jawab :
Diinfokan apa itu banci dan jelaskan kalo perilaku begitu tidak lazim di masyarakat. Bagaimanapun anak harus tau yg mana salah dan benar dan menganalisanya, insya allah akan terbangun filternya di anak. Krn kita tdk bs mensterilkan anak hanya melihat yg baik2 saja…
Gaya bahasa disesuaikan dgn usia ya…
walopun ada orang laki yg berpakaian spt perempuan karena profesi (Cross dresser, tapi secara alami dia tidak gay)

8. Yunita
jika anak laki2 di cap cengeng oleh lingkungan, dan bahwa yg boleh mennagis hanya wanita dan laki2 gak boleh nangis, bagaimana memberi tahu lingkungannya dan anaknya sendiri agar tidak merasa seperti wanita?

Jawab :
Tanamkan ke anak menangis itu boleh asal tidak berlebihan . Siapapun(laki dan perempuan) boleh mengekspresikan perasaannya termasuk lewat menangis.
Karena menangis juga merupakan metode penyaluran (katarsis) emosi. Malah sebaiknya kita mengajarkan anak gradasi emosi supaya anak mampu mengenali dirinya sendiri (Ini kecerdasan emosional lho)
Sedikit tambahan : di jepang ada buku parenting berjudul “Nakeru Ko o Sodateyo”. artinya : Mari kita besarkan anak mampu menangis.
Karena jiwa yang lembut menghasilkan hati yang lembut dan pribadi yang ramah.
Kalau saya pribadi, saya selalu tarik anak disaat dia akan menangis di publik, biarlah dia menangis sepuasnya di saya. Karena orang lain suka ga peduli soal tangisan anak laki2.

 

Kesimpulan

Setiap manusia memiliki fitrah seksualitas dalam dirinya, laki-laki dan perempuan. Namun seiring berjalannya kehidupan, ada tantangan dan halangan seorang anak dalam menjaga fitrahnya seperti pergaulan yg bebas, parenting yang salah, media sosial dan sebagainya hingga berujung pada LGBT. Namun kita tidak boleh menutup mata ada LGBT yg cacat sejak lahir karena hormon dan genetik.

Alih-alih menumbuhkam fitrah seksualitas anak, orang tua malah membesarkan anaknya dgn stereotypengender. Padahal hal tsb justru mengkerdilkan anak dan berefek buruk secara jangka panjang.

Tugas kitalah sebagai madrasah pertama bagi anak untuk menjaga fitrah anak pada usia pengasuhannya, bahkan sejak dalam kandungan.

Agar kelak ketika kita harus melepas mereka pasa saat aqil baligh mereka sudah terbekali dengan fitrah yang ajeg sehingga akan lebih kuat menghadapi tantangan hidup.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

 

Bunsay Level 11 Day 7: Peran Vital Ayah dalam Pengasuhan Berbasis Fitrah Seksualitas Anak

Kami kelompok 7 yg beranggotakan : @Marisa Andi Bumbung , @Akmalia Maharani , @Yunitad dan saya sendiri irma

Akan membahas sedikit soal Peran Vital Ayah dalam Pengasuhan Berbasis Fitrah Seksual Anak
Disini adakah yg merasa Ayah si anak-anak kurang ikut serta dalam membangkitkan fitrah seksual anak?
Yuk, kita gandeng paksu untuk sama-sama membangkitkan fitrah seksual anak.

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaan

1. Nares
Bagaimana memperbaiki fitrah seksual yg saat kecil sudah berantakan, disaat kitanya sudah besar?

Mbak @Nareswari , maaf lama jawabnya, ngetiknya banyak typo.
Berikut yang bisa dilakukan :

  1. Memohon ampun kepada Allah dan meminta petunjuk diberikan jalan keluar dari setiap masalah.
  2. Melakukan healing pada diri sendiri, dengan konsultasi pada ahli agama / tenaga profesional.
  3. Memaafkan orang tua jika itu ada andil kesalahan orang tua.
  4. Memperbaiki apa yang salah sejak sekarang dan memotivasi diri sendiri untuk tidak mengulang kesalahan pada anak.

2. Yesi
Apa yang membuat kelompok 7 lebih mengangkat Peran Ayah daripada Peran Ibu untuk tema materi kali ini?

Tks mbak @Yesi ,
Kenapa memilih tema Ayah, berikut alasannya :
Saat ini fenomena yang terlihat secara umum adalah :

  1. Ayah jarang membersamai anak padahal dia adalah pemimpin yang kelak diminta pertanggung jawaban oleh Allah. Dan kami ingin para Ayah sadar akan hal itu. Makanya, dengan tema ini, minimal kami bisa mencolek paksu untuk lebih aware.
  2. Anak kehilangan sosok ayah. Hanya terlihat di hari libur, dan juga masih sibuk dengan gawainya. Betapa anak merindukan sapaan, teguran, bahkan ngobrol dan bercanda dengan ayahnya.
  3. Rendahnya partisipasi Ayah dalam belajar parenting. Bila ada seminar atau workshop, peserta Ayah bisa dihitung jari. Padahal pengasuhan anak itu tugas ayah dan ibu.

3. Dwi Yunita
bagaimana memaksimalkan peran ayah dalam mendidik anak di era modern saat ini. Misalnya untuk Ayah yg bekerja menjadi pelaut, yg hanya bisa pulang ke rumah bbrp bulan sekali & berkomunikasi lwt telpon pun sulit karena kerjanya di tengah laut (misalnya).
Tks πŸ™πŸ»

Halo mbak @Dwi Yunita IIP, terima kasih sudah bertanya.
Beberapa alternatif solusi :

  1. Mencarikan sosok lain sebagai sosok pengganti. misal om, kakek, atau ustadz. Sehingga anak tidak kehilangan figur ayah.
  2. Memaksimalkan waktu yang ada selagi bertemu dengan anak. Dengan Menyusun kegiatan yang berhubungan yang membangkitkan fitrah seksual anak.
  3. Jika ayah tidak dapat menelpon karena sibuk/kendala komunikasi, maka memintanya untuk tidak melupakan anak-anaknya dalam doa. Daan yang pasti..doa yang datangnya dari hati..akan sampai ke hati juga.
  4. Peran ibu disini penting. Untuk selalu mengingatkan, bahwa sosok ayah tetap ada. Dan tidak lupa mendoakanya kembali dari ibu dan anak-anak untuk ayah.

4. Tya
Boleh kah ayah memandikan anak perempuannya ?
Jika boleh, sampai putrinya umur brapa?
Jika tdk boleh tolong beri alasan atau pendapat πŸ˜‰?

Mbak @Tya Navratilova , tks ya sudah berpartisipasi.
Kalau Menukil dari artikel yang mengambil pendapat syekh Abdul β€˜Aziz bin β€˜Abdillah bin Baz, Bahwa
Selama anak tersebut di bawah tujuh tahun, maka tidak ada aurat yang terlarang dilihat baginya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Tidak mengapa memandikan atau membantu mereka ketika mandi. Semuanya tidaklah mengapa. Adapun jika anak tersebut sudah di atas tujuh tahun, maka jangan lakukan. Tutuplah aurat mereka dan jangan aurat mereka disentuh kecuali bila ada hajat. Kalau ada hajat, maka tidak mengapa jika ibu atau pembantunya memandikan mereka ketika anak tersebut belum bisa mandiri untuk mandi.

Dan ini artikel yang lainnya.
https://rumaysho.com/1833-ayah-melihat-aurat-puterinya.html

Saat Anak Punya Kebiasaan Mandi Bersama Orang Tua, Kapan Harus Dihentikan?
https://m.detik.com/health/ulasan-khas/2429472/saat-anak-punya-kebiasaan-mandi-bersama-orang-tua-kapan-harus-dihentikan

5. Erna
Bagaimana membuat hubungan Ayah dan anak perempuan lebih dekat, sedangkan ayah tipe kaku dan enggan bermain dengan anak?

Mbak @erna leri , terima kasih ya pertanyaaannya.
Ini jadi bahan diskusi kami juga di kelompok 7

Coba ini mbak :

  1. Sebenarnya kuncinya ada pada diri Ayah. Merubah dirinya untuk menjadi Ayah yang menyenangkan bagi anak, menjadi teman, bahkan sahabat terbaik anak. Ingin seperti apakah ayah dikenang oleh anaknya. Maka berubahlah.
  2. Pada anak usia balita, bisa beraktifitas bareng, bercerita atau mendongeng. 10 menit juga sudah cukup.
  3. Pada anak usia 7 tahun ke atas, bisa membuat 1 hari khusus anak. Misal hari abang Ian. Ajak anak nonton, makan bareng, ke bengkel, dll. Lakukan aktivitas yang mana baik Ayah dan anak bisa menikmati bersama.
  4. Ayah lebih sering berinteraksi dengan anak, maka ayah akan lebih mengenal anak. Sehingga akan jadi sahabat yang menyenangkan.

Biasanya suami/ayah enggan ikut terlibat pengasuhan anak/rumah tangga karena mungkin kebanyakan dari kita (istri) lebih ingin berbagi “beban” daripada berbagi “kebahagiaan” dlm pengasuhan anak 😊

Coba deh, kita perlihatkan kepada suami bahwa mengasuh/mendidik anak itu adalah hal yg membahagiakan & menyenangkan. Biasanya suami tertarik ingin terlibat di dalamnya 😊

6. Yani
Bagaimana merubah paradigma Ayah yg udh mendarah daging dan terpapar sejak kecil bahwa Ayah cari nafkah, Ibu urus anak ?

Hai mbak @Yani IIP , benar banget. Itu sudah seperti kaidah umum ya mbak.
Sebaiknya dimulai dari kita sebagai istri. Istri membantu suami untuk menjadi ayah yang lebih percaya diri dalam mengemban amanahnya. Tumbuhkan morivasinya untuk terlibat dalam pengasuhan. Dengan kalimat yang santun dan tidak menyalahkan serta menuntut.
Kirimi suami video-video tentang aktivitas anak sehari-hari, sehingga tumbuhlah kerinduannya dan keinginannya untuk ikut membersamai anak.
Memang tugas mencari nafkah adalah tugas utama / ladang jihad Ayah. Namun memelihara istri dan keluarga dari api neraka juga tugas utama seorang Ayah. Itu dalilnya jelas. Tercantum dalam alqur’an. Hehehe, maaf jadi keluar dalil.
Bila semua itu belum berhasil, mari kita doakan pasangan kita dalam shalat sujud kita, agar beliau berubah. Allah adalah sebaik-baik tempat meminta.

Semangad ya untuk kita semua.

7. Yopi Tessa
Krn hubungan ayah yg LDR.
Ketika ayah jauh, bunda sudah menerapkan aturan. Tapi ketika ayah di rumah, aturan berubah, … itu yg membuat anak2 kadang seperti berontak.
Itu bagaimana menyikapinya…

Mbak @yopie “WedangJaheSecang” , LDR itu memang sesuatu ya.
Jangankan yang LDR, yang tidak saja sering terjadi pelanggaran aturan (ini mah saya).

Kita lanjut ya. Bila LDR, maka:

  1. Perlunya membuat visi misi keluarga, sehingga suami istri paham dan menjadikan visi misi itu sebagai guidance. Plus tujuan pengasuhan.
  2. Perlunya sosialisasi untuk setiap peraturan yang diterapkan dalam keluarga. Update kepada suami bila ada perubahan.
  3. Perlunya konsistensi dalam menerakan aturan. Karena aturan itu untuk disepakati dan dijalankan bukan untuk dilanggar.
  4. Bila terjadi pelanggaran, orang tua memberikan konsekuensi yang telah disepakati. Sehingga anak paham, bila melanggar aturan akan ditindak.

Kesimpulan

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ
Sesibuk apapun seorang ayah dalam mencari nafkah, ia tetap wajib untuk memberikan waktu bagi anak-anaknya.
Saat seorang ayah bisa meluangkan waktu yang lebih untuk mendidik anaknya, ayah bisa melihat dan berperan aktif dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak secara signifikan.
Jika seorang ayah mampu mendidik anaknya dengan baik,InsyaAllah anak akan menjadi lebih hebat dari ayahnya.
Tugas seorang ayah sangat berat.Mari para bunda, bantu ayah lebih percaya diri mengemban amanahnya.Selalu berdoa memohon pertolongan Allah subhanahu wata’ala agar dimampukan mendidik anak dengan baik.
πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

Bunsay Level 11 Day 6: “SEX ABUSE: How to keep your kids safe”

Selamat datang di diskusi siang ini yang akan disampaikan oleh Kelompok 6.
Pada kesempatan ini kami akan menyajikan tema β€œSEX ABUSE: How to keep your kids safe”
Kelompok 6 terdiri dari :
@~ Yulita Ika Pawestri ~
@Mbakdee
@febriana trihandayani
bestari

Maraknya kasus kekerasan pada anak belakangan ini menyebabkan banyak orang tua menjadi khawatir dan was-was. Sebagai orang tua, kita wajib belajar untuk dapat membentengi anak dari perbuatan tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Materi kelompok 6 dalam format PDF dapat diunduh disini

Pertanyaan

1. Fara
Bagaimana cara mewaspadai lingkungan sekitar?
Seringkali, baca berita, pelaku sex abuse adalah orang terdekat, dan orang yang baik, tidak ada tanda tanda aneh. Setelah kejadian, baru tahu.

Betul, sering kali pelaku pelecehan seksual justru orang sekitar kita yang tidak kita sangka ya,, karena kesannya orangnya baik-baik saja..
tentunya setelah kita memberikan bekal pendidikan seks yang cukup ke anak (termasuk mengajarkan anak tentang tidak ada orang yang boleh menyentuh bagian pribadi, dll) kita juga harus waspada dengan orang-orang yang bisa jadi potensial melakukan pelecehan seksual.

Karakteristik Pelaku Pelecehan Seksual
Pelaku pelecehan seksual pada anak atau pedofil biasanya merayu anak-anak secara bertahap. Pertama-tama, ia memberikan perhatian khusus pada calon korbannya, umumnya anak yang kelihatan tidak berdaya dan penurut sehingga mudah dikendalikan. Ia mungkin juga mencoba mendapatkan kepercayaan orang tuanya dengan berpura-pura menaruh minat yang tulus kepada si anak dan keluarganya. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengadakan kontak fisik dengan si anak lewat belaian sayang atau permainan. Ia mungkin sering memberikan hadiah kepada si anak. Selanjutnya, ia mulai memisahkannya dari keluarga atau teman-temannya agar bisa berduaan saja dengan si anak. Setelah si pedofil mendapatkan kepercayaan anak serta orang tua, ia siap beraksi. Ia mungkin memanfaatkan keingintahuan wajar si anak tentang seks, mengajaknya mengadakan β€œpermainan istimewa” rahasia, atau memperlihatkan pornografi kepada anak supaya perilaku demikian tampak normal. Setelah berhasil memperkosa, ia akan berusaha membungkam si anak dengan berbagai taktik licik, seperti mengancam, memeras, dan menyalahkan. Dengan mengenali karakteristik pelaku, Anda akan lebih siap untuk bertindak dalam mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.

2. Yani
Ini bahasannya seru dan ngeri2 gimana gt yah, terima kasih kelompok 6 ❀
Bagaimana cara mengobati trauma dr tontonan/bacaan atau berita terkait sex abuse ? atau malah trauma dr penderita / pelaku sex abuse ?

Untuk mengatasi trauma, Kemensos sudah menyusun materi yg kemudian akan menjadi acuan utk mengatasinya.. Rehabilitasi bagi pelaku dan korban kekerasan seksual menjadi poin penting dalam materi tersebut.
Karena tidak ingin ada residivis pelaku kejahatan seksual maupun potensi bertambahnya pelaku baru dari bekas korban kekerasan seksual. Karena itu, rehabilitasi harus menyeluruh, baik kepada korban, keluarga korban dan pelaku.
Seperti kita lihat pada slide, faktor historis (pengalaman terdahulu) menjadi salah satu faktor dr korban, kemudian menjadi pelaku

Wahhh terima kasih atas jawabannya Mba 😘
Boleh ya tanya lanjutannya… βœŒπŸ˜†
Lalu alur yg hrs kita lakukan apa atau gimana ya Mba?

Naah..
Bila kita menemui kejadian kejatahan seksual di sekitar kita..
Kita bisa menyampaikan ke pihak berwajib terdekat, boleh ke pengurus terkecil seperti RT, RW. Atau lembaga yg telah ditunjuk.
Biasanya P2TP2A…
Ini untuk Tangsel, ada infonya di sini mba..

http://p2tp2atangsel.blogspot.co.id/2013/11/apa-itu-p2tp2a-pusat-pelayanan-terpadu.html?m=1

3. Erlina
Bagaimana agar ke”parnoan” kita terhadap kemungkinan terjadinya sex abuse tidak menghalangi kebebasan anak?

Mba erlina terima kasih pertanyaannya πŸ€—
tema sex abuse pada anak ini memang otomatis membuat orang tua parno dan ngeri sendiri ya 😭
bagaimanapun yang bisa kita lakukan semata-mata ikhtiar semaksimal mungkin membekali anak-anak kita dengan pencegahan yang bisa lakukan, diantaranya telah disebutkan di slide ya..
tentunya kita juga harus banyak-banyak-banyaak banget berdoa agar anak-anak kita dilindungi Allah.. jika ikhtiar membekali anak dan doa telah kita maksimalkan, plus komunikasi kita dan anak berjalan dengan baik, insyaaAllah kita bisa lebih tenang dalam mendampingi anak ya..

Terimakasih jawabannya mbak… mmmm saya ga bisa berenti ngintipin anak saya yang ada didalam ruangan les bersama guru laki lakinya. 😬

lesnya privat kah mba? iya mba,, anaknya dibekali ttg underwear rule y mba,, plus jika anak mendapati hal-hal yang tidak wajar, harus langsung teriak πŸ™ˆ

4. Adit
Hampir sama dengan pertanyaan mba Fara. Gimana kalau pelakunya malahan, orangtua atau salah satu dari orangtua korban?
Tentunya sbg anak sudah biasa disentuh oleh orangtua. Dan ada kasus yang sang ayah yang malahan melakukan sex abuse terhadap putrinya atau saudara laki-laki kepada saudara perempuan nya. Kalau seperti ini, bagaimana mencegahnya?

Terima kasih pertanyaannya mbak Adit..
Kok hatiku jadi gerimis, baca pertanyaannya ya.. πŸ˜₯
Bismillah saya coba jawab sedikit pertanyaannya yaa…

Maka dari itu perhatian, komunikasi antar anggota keluarga tidak boleh putus.
Kita sebaiknya tdk cuek begitu saja..
Mendengarkan cerita anak dgn seksama..
Dan seperti yg sudah tercantum di slide, kita sbg org tua harus banyak belajar..
Mulai dr komunikasi produktif, hingga fitrah seksualitas..
Seperti di kelas bunsay ini..

Dengan mengajarkan anak fitrah seksualitas sesuai tahapan usia, diharapkan anak akan lebih peka terhadap kejahatan2 yg mengintai di sekitarnya

βœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊ

Kesimpulan

Pada dasarnya pendidikan fitrah seksualitas memiliki 3 tujuan utama :
– agar anak mengerti tentang identitas seksualnya
– agar anak mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya
– untuk mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Jikaa pendidikan fitrah seksualitas ini tidak terlaksana dengan sempurna pada tiap tahapnya, dapat berakibat pada penyimpangan seksual yang bermuara pada kejahatan seksual, selain penyimpangan terkait peran keayahbundaan, dengan anak sebagai pelaku atau korban.

βœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊβœ’πŸ“–πŸ’πŸŒΊ

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

Bunsay Level 11 Day 5: Pengaruh Media Digital Terhadap Fitrah Seksual Anak

Bismillahirrahmanirrahim

Perkembangan teknologi digital kian hari makin cepat, di satu sisi teknologi digital ini banyak membuka peluang baru dan memudahkan aktivitas kita sehari-hari.

Di sisi lain, ada juga dampak negatif yang dibawa oleh pesatnya perkembangan teknologi digital, termasuk terhadap perkembangan fitrah seksualitas anak-anak kita.

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaan

1. Fara
Kalo begitu, usia berapa anak anak, diperbolehkan mempunyai perangkat genggam sendiri? Berkaitan dengan antar jemput sekolah, mencari tugas sekolah via google dkk

Terima kasih untuk pertanyaannya mba fara. 😊
Untuk kepemilikan gadget sendiri menurut kelompok kami, yang mengacu pada buku abah ihsan, anak2 baru boleh memiliki gadget berupa smartphone sendiri di umur 17tahun. Sedangkan untuk keperluan tugas sekolah dll bisa pinjam gadget ortunya dulu. selain itu, penggunaan search engine kiddle.co juga disarankan.. monggo teman2 kelompok 5 yang ingin menambahkan πŸ™πŸ»

Sedikit menambahkan. Setiap keluarga mungkin punya kebutuhan berbeda. Yg penting ketika sudah punya gadget sendiri harus ada kesepakatan antara orang tua dgn anak. Misalnya: pemakaian gadget hanya boleh di ruang bersama ga boleh sembunyi sembunyi, untuk akun medsos yang dimiliki anak, apakah ortu boleh mengintip atau bolehkah meminta friend rikues, brp jam yg boleh dipakai main gadget, dsb

2. Dilla
Di satu sisi kita pengen yah membatasi masalah gadget ini, tp gak semua ortu kayak kita. Kmrn ada ibu2 yg curhat anaknya dianggap kuper dan gak asik krn gak main game. Oleh krn itu si anak tsb melipir k e perpus setiap jam istirahat, makin lah si anak dicap gak asik sm temen2nya… Kalo kya gini, simalakama gak sih?

Maksudnya simalakama karena si anak tdk bisa bergaul dengan teman nya? Justru dalam kasus ini, values keluarga sudah tertanam di diri anak, sehingga dia tdk ikut dengan lingkungan.. Tentu banyak kesempatan bergaul yg lain yg sesuai dgn values yg ia pegang

Menambahkan dari mbak tresna
Apakah anaknya yang memilih sendiri seperti itu mbak?
Kalau anaknya yang memang sudah faham dan memilih sendiri bagaimana dia menyikapi tentang masalah gadget ini tentu kita tidak perlu khawatir.
Pendapat orang boleh didengarkan sebagai masukan. Tapi kita yang menentukan pilihan terbaik yang mana untuk anak

Games jg tdk selamanya harus dihindari, ada games edukatif yang bisa anak pilih. Banyak media digital yg positif juga utk anak, tinggal bagaimana ortu memandu anak agar bs memilih

3. Ika
Jika anak usia 1-5 tahun tidak dibatasi, dampaknya seperti apa mba?
Lalu bagaimana step pertama jika anak usia tsb sudah ketagihan?

Untuk anak sekitar usia 1-5 tahun akan kekurangan aktivitas fisik dalam segala hal. Anak2 akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget dibanding bermain diluar atau beraktivitas bersama teman2nya.
Ini juga berpengaruh pada fine motorik skillnya karena kurang terstimulasi, anak bisa speech delay juga. Ketika sudah kecanduan waktu makan juga bisa sambil pegang hp, makan tidak terkontrol bisa ke obesitas. Anak yang banyak bermain games melebihi waktu yang ditetapkan bisa juga mempengaruhi kualitas tidur dan yang lebih jauh lagi masalah kesehatan mental anak

Step-stepnya, kurangi dulu waktunya jangan sekaligus dipisahkan. Dan bisa dicarikan aktivitas alternatif menarik lain untuk anak.

4. Yani
Bahasannya seru sekali ❀
Jadi, kalau udh terlanjur paparan gadget, bahkan pake password yg Ortu nggatau dan nggatau jg apa aja yg udh dilihat krn sdh punya akun medsos sendiri dan gadget sendiri di usia 15 thn, gimana ya caranya spy anak bs terbuka sm Ortu dan memberikan paparan pencegahan utk tdk melihat konten yg tdk baik?

Teri.akasih pertanyaan nya mba..
Disitulah peran aktif orangtua dibutuhkan. Bounding yang kuat sedari lahir berpengaruh terhadap ke percayaan dan keterbukaan anak terhadap orangtua mereka. Sehingga mereka nyaman untuk membagi apapun kepada orangtua ketimbang pada teman sebaya mereka.
Karena apabila usia sekolah anak cenderung terpengaruh lingkungan sekitar yang bisa berdampak positif juga negatif.
Orangtua pun tidak boleh apatis dengan perkembangan digital sekarang ini dan terus menggali ilmu. Jangan anggap “dulu juga ga usah / ga ada” karena anak adalah milik zamannya bukan milik zaman orangtua..

Terima kasih jawabannya Mba ☺
Boleh ya bertanya lg, ini sebenernya kejadian nyata, dan Ortu bingung hrs melakukan apa krn sdh terlanjur begitu…di kesempatan ini saya ikut bertanya, siapa tau ada saran utk solusinya dr kelompok 5 😊

Jika sudah terlanjur, sebaiknya ortu membekali anak mengenai pengetahuan di dunia maya. Istilah nya literasi digital..sepeti dijawab di point tadi, anak diperkenalkan cara melindungi diri, mengetahui bahaya dan kejahatan online,
Sebentar saya carikan referensi mengenai apa aja yang perlu anak tahu ketika di dunia maya.. Krn kalo anak terlanjur sudha punya akun medsos dan akan Kita ambil tentu sulit ya, dia akan menolak

Mba @Yani IIP mungkin ini bs jadi referensi apa aja yg perlu dibekali pada anak yg sudah berselancar online
https://digitalmama.id/literasi-digital-abad-21/

Menambahkan jawaban mba tresna utk anak yg sudah terlanjur terpapar medsos,
perkuat bonding dengan anak..buat semacam perjanjian yg harus disepakati semua keluarga utk tidak menggunakan gadget pada kurun waktu tertentu. waktu tsb yg digunakan untuk perkuat bonding…cerita..bermain..melakukan aktivitas bersama..sekaligus memasukkan ajaran2 yg kita ingin anak menjalankannya..trrmasuk pengetahuan ttg literasi digital tadi..

Boleh menanggapi/menambahkan ga?
Untuk poin yang sudah terlanjur terpapar medsos, tergantung derajat addictionnya, kalau sudah parah bisa konsultasi ke psikolog
Karena kadang tidak semudah itu bonding dilakukan oleh orangtua. Beberapa orang butuh intervensi orang ketiga yg netral

5. Dwi Yunita
Selain pengaruh negatif menurut teman-teman, adakah pengaruh positif media digital terhadap fitrah seksual anak? Misalnya seperti apa?
Tks πŸ˜ŠπŸ™

Menurut kami, pengaruh positif gadget ke fitrah seksualitas anak terbatas pada luasnya akses pengetahuan terkait yg bisa memperkuat fitrah seksualnya. misal..ketika anak perempuan ingin kita kuatkan feminimitasnya dgn belajar masak..tutorial2 masak di media digital bisa dipakai sebagai sarana penambah pengetahuannya..begitupun untuk anak laki2, ketika sang ayah mengajarkan sisi2 kelelakian dgn ngajarin nukang..media digital pun bisa jadi referensinya…πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

6. Nilla
Kalau menurut kelompok 5 apakah anak usia 10th diperbolehkan memiliki akun media sosial sendiri? Jika sdh punya apa dampak negatif dan positifnya untuk anak tsb…

Media sosial sebetulnya sudah memiliki batas minimum untuk kepemilikan akun.. Misal fb di usia 13thn ya. Tentu ini ada background nya, terkait dengan kedewasaan anak, dll. Ketika memberikan anak akun media sosial, pastikan anak bisa melindungi diri di dunia maya. Panduan ya antara lain: tau informasi apa yang boleh dan tdk boleh dibagikan di media sosial (misal alamat, tgl lahir tdk boleh di share), tau bahaya medsos misal online bullying, phising, dan apa yg harus dilakukan ketika ia mengalami

Catatan penting lainnya, ada baiknya orang tua punya mekanisme untuk memantau aktivitas anak di medsos, dan anak menyetujui hal ini. Apakah ortu diberi tahu password anak, atau ortu dan anak saling follow

Tp juga harus punya batasan, jangan sampai membuka akun anak tanpa ia tahu, atau memberi komentar di status anak yg bs membuatnya malu

πŸƒΒ  KESIMPULAN πŸŒΈπŸƒ

Dikarenakan tuntutan dan kebutuhan, penggunaan media digital oleh anak saat ini tidak dapat dihindari. Namun sebagai orangtua ada beberapa langkah yang bisa diambil sebagai antisipasi terhadap pengaruh negatif yang muncul khususnya untuk perkembangan fitrah seksualitas mereka.
Tanamkan keimaman dengan kuat dan kesadaran akan pengaruh buruk media digital sebagai pertahanan utama dari dalam diri si anak. Berikan aturan yang harus dipatuhi dan dievaluasi oleh seluruh anggota keluarga. Dampingi dan awasi penggunaan media digital sesuai usia anak.
Karena sebagai manusia kita penuh keterbatasan, sebaik dan secanggih apapun usaha yang kita lakukan senantiasa akan ada yang luput dari pengawasan kita. Selalu berdo’a dan minta tolonglah pada yang memiliki sebaik-baiknya pengawasan dan perlindungan Allah Subhannahu Wa Ta’alla untuk kebaikan anak-anak kita.
_________________________
πŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

Bunsay Level 11 Day 4: Mempersiapkan Calon Ayah dan Ibu yang Baik

Kelompok 4: Yopi, Nilla, Ami, Fara, Dwi Yunita

GENDER: apa saja masalah yang kita hadapi?

  1. Ayah dan Ibu/Suami dan Istri β€œbingung” dengan perannya
  2. Maraknya kasus LGBT
  3. Tuntutan kesetaraan gender
  4. Tingginya kasus KDRT

Faktor-faktor yang mempengaruhi
Internal: keluarga
Eksternal: Lingkungan, mesia massa, sosaia media

Mengapa masalah itu terjadi?
Karena Kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang fitrah seksualitas.

Apa itu Fitrak Seksualitas?
Fitrah seksualitas ini berbeda dengan pendidikan seks, fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaku sejati atau perempuan sejati (Harry Santosa, 2017)

Seberapa pentingkah untuk dibangkitkan?
Sangat Penting.
Supaya anak kita tidak β€œkebingungan”. Terutama β€œkebingungan” dengan peran sebagai ayah ataupun peran sebagai ibu. Apalagi saat ini tengah ramai dengan kasus LGBT dan transgender yang juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Maka sudah tentu tugas kita sebagai orang tua adalah membangkitkan fitrah seksualitas anak-anak agar siap menjadi ayah dan ibu yang baik di masa depan.

htshts 2sumber

Pertanyaan

1. Lita

Kapan ya anak laki2 baiknya disunat?
Kalau dari segi kesehatan Dan kebersihan Kan sedini mungkin (cmiiw)
Tapi Saya bingung disatu sis jg saya mau ngajarin bahwa alasan disunatnya
Dan berkaitan dengan bersuci yg nantinya nyambung ke ibadah sholat?

Terima kasih mba lita, atas pertanyaan nya. ❀
Kebetulan saya juga punya anak laki laki. Saya bantu jawab sesuai pengalaman yaa..
Betul memang, kalo dari segi kesehatan dan kebersihan, memang sedini mungkin.
Dari Integral Medical Center, London, baik nya usia 7 – 14 hari.
Kalo saya dan suami, sama kayak Mba Lita, menunda sunat, menunggu anak lebih besar.
Sekaligus memberikan pemahaman tentang, apa fungsi sunat, kenapa anak anak disunat, sekaligus pendidikan seks juga untuk anak, bahwa laki laki sunat, perempuan engga.

Untuk usia, dari usia 5 tahub, sudah mulai di sounding ke anak anak, penting nya sunat, ditekankan pada kebersihan, dan ibadah.
Insya allah anak pertama, 6 tahun, akhir tahun ini, sudah mau disunat. 😊

Dan ini juga lihat case kesehatan anak juga, putra saya ke2, ada indikasi fimosis.
Jika memang, tidak memungkinkan menunda sunat, untuk memberikan pemahaman, dikarenakan kasus medis, seperti anak saya yang kedua.
Memang lebih baik nya, disegerakan.. 😊

2. Yani

Terima kasih, menarik sekali temanya ❀
Kok sy malah pengen tanya, gimana ya cara kita tau apakah kita sebagai Ibu, udh sesuai fitrah blm ya?
ke tdk PD-an sy timbul ketika belajar kelompok gini, jd refleksi masa lalu, yg sy sendiri ngga inget apakah sdh disiapkan sejak anak2 menjadi Ibu sesuai fitrah 🀭
sebelum kita mendidik anak,menyiapkan mereka sesuai dgn fitrahnya 😊
Terima kasih..

Terimakasih mba Yani ❀ pertanyaannya menarik.
Alhamdulillah karena mba Yani kini menyadari & mulai mengingat2 apakah pengasuhan orang tua yg dulu sudah baik atau belum.
Selanjutnya adalah Tazkiyatun nafs (pensucian jiwa), mba Yani.
Alhamdulillah melalui diskusi ini kita juga banyak belajar, sehingga kita mulai bisa memperbaiki diri kita sesuai fitrah (memperbaharui fitrah) agar siap mendampingi anak kita.
Saya percaya sejatinya semua orang tua selalu ingin memberi yg terbaik untuk anaknya, bukan? 😊

Terima kasih jawabannya Mba, lalu jd ingin tanya lg, boleh yaa 😊
bagaimana cara tahapan memperbarui fitrah utk seorang Ibu/Bapak ya? cara pensucian jiwa utk tau sdh sesuai fitrah atau blm? apakah bs dilakukan sendiri? atau butuh org lain, tp siapakah yg kompeten utk didatangi?
Sekali lg terima kasih 😊

Semua berasal dari dalam diri kita sendiri, mba. Namun kadang kita butuh dorongan/motivasi dr org lain atau lingkungan. Membaca buku, mengikuti seminar-seminar, mengikuti kelas di IIP juga bisa membantu memotivasi untuk kita bisa memperbaiki/memperbaharui fitrah kita.
Mungkin ada banyak tokoh-tokoh yg berkompeten didibang ini, diantaranya ada Ust Harry Santoso dan Ibu Septi Peni Wulandani ❀

3. Tresna

Saya tertarik dengan poin How To Start: Membangkitkan pemahaman dan fitrah seksualitas dari rumah/keluarga. Dicontohkan bahwa anak laki-laki dikenalkan dengan kegiatan maskulin (pertukangan, mekanik, dsb) dan perempuan (beres-beres, mengurus anak). Bagaimana batasannya agar si anak nanti tidak salah memahami, bahwa perempuan tidak perlu bisa bertukang, dan laki-laki tidak perlu bisa beres-beres atau tidak perlu mengurus anak, padahal sejatinya nanti ketika berumah tangga, skill tersebut diperlukan baik laki-laki atau perempuan

Terimakasih mba Tresna..
Sebaiknya awalnya anak-anak dikenalkan terlebih dahulu dengan kegiatan-kegiatan yg sesuai. Lelaki dgn hal-hal yg maskulin, perempuan dgn hal-hal feminin. Tujuannya agar anak paham “posisi” nya sebagai lelaki atau perempuan.
Kemudian, jika sudah terpatri hal tersebut maka tak salah jika kemudian anak perempuan tahu cara memaku/memotong kayu. Atau lelaki bisa memasak.
Yang utama adalah membangkitkan sisi maskulin (bagi anak lelaki) & sisi feminim (bagi anak perempuan) agar siap menjadi lelaki sejati & perempuan sejati ❀

4. Yesi

Terimakasih atas sajian materinya kelompok 4
saya ingin bertanya,terkait mengembangkan fitrah Seksualitas anak di lingkungan keluarga, bagaimana pandangan kelompok 4 dengan aktivitas memasak yg cenderung feminim, tetapi sebenarnya kalo dr sisi Montessori, memasak adalah salah satu practical life yg baik untuk dimiliki wanita dan laki laki, apakah sebaiknya anak laki laki tetap di ajak melakukan aktivitas memasak/di dapur atau tidak?
terimakasih ❀

Makasi mba yesi, untuk pertanyaan nya..
Sebenernya, kami, termasuk, tidak memandang memasak adalah aktivitas yang feminim 😊
Karena memang memasak itu, berat. Dan tidak harus dilakukan oleh perempuan saja.
Beberapa chef terkenang, banyak juga yang laki laki.
Laki2 bisa memasak itu nilai juga termasuk hal yg positif.
Biar saat dewasa mandiri jg. dan saat nanti berkeluarga istrinya sakit dia bisa menggantikan istrinya buat masakan atau lbh tepatnya merawat istrinya yang sedang sakit..
Anak laki-laki bahkan penting belajar memasak supaya bisa mandiri.
Dia mesti belajar berbagai bahan pangan yang tumbuh di alam.Β 
Bagaimana cara memastikan mana yang beracun dan tidak, bagaimana mengolahnya yang tepat.
Yg utama membangun sisi maskulin (bagi lelaki) & sisi feminin (bagi wanita) 😊

πŸ’ K E S I M P U L A N πŸ’

Sejatinya sebagai sosok ayah ibu (orangtua), kita harus senantiasa hadir sebagai “teman” anak sejak lahir hingga baligh.
Sebagai orang tua, kita tidak berpikir tentang membesarkan anak tetapi berpikir tentang membesarkan generasi penerus.
Maka, mempersiapkan calon ayah & ibu yang baik adalah ikhtiar kita sebagai orang tua. Salah satunya adalah mengajarkan anak-anak tentang fitrah seksualitas. Sehingga kelak dapat tumbuh menjadi lelaki sejati & perempuan sejati yang siap menjadi Ayah & Ibu yang baik.
Selain melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik, tak lupa berdoa kepada Allah swt agar meridhoi langkah-langkah kita.
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas