Bunsay Level 11 Day 3: Membangun Adab Sebagai Solusi Menjawab Tantangan Fitrah Seksualitas Anak

Kelompok 3: Annisa Deni, Atti Sholiha, Nia Kurniawati, Lita Sulis,  Ismi Suryani

Kita mulai dengan Basmallah…

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Untuk menjawab solusi tantangan fitrah seksualitas anak diperlukan adab sebagai pedoman sehingga terciptalah tindakan, karena fitrah adalah potensi dan adab adalah aksi.

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaan

1. Yani
Pada diagram Adab dituliskan, ditempa dgn ketagaan, ini maksudnya gimana ya?
saya coba2 cerna tp msh ngga mudeng

Ditempa dengan ketegaan maksudnya adalah menegakkan kedisiplinan. Sesuai dengan tahap mendidik Rasulullah pada anak2 beliau. Usia 10-14 tahun masuk tahap kedua, tahap dimana anak harus diajarkan disiplin Dan diberi tanggung jawab

Contoh: Islam mengajarkan kalo anak sudah memasuki usia 10 thn jika masih tidak menjalankan kewajiban, seperti menutup aurat, sholat boleh di hukum. Tp tidak boleh menyakiti

2. Ika
Apa bedanya akhlak dan adab? Terimakasih tim kelompok#3 atas jawabannya

Adab merupakan hal yang lebih luas daripada akhlak. “Akhlak ialah kondisi jiwa seseorang yang dengan kondisi ini seseorang akan melakukan sesuatu secara refleks. Maka, ada pembagian akhlak baik dan akhlak buruk. Beda dengan adab. Adab tidak ada yang buruk,”

Karena adab ialah sesuatu yang luas, maka adab meliputi berbagai aspek, yaitu adab kepada diri sendiri, manusia lain, ilmu, bahasa, alam dan bahkan perabotan dirumah kita. “Maka, hal ini perlu dipahami sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan oleh manusia untuk menjadi manusia yang baik atau beradab. Jika tidak, maka akan hilanglah adab kita,” – Ardiansyah (pengasuh pondok pesantren Shoul Lin al-Islami)

Singkatnya, akhlak adalah sifat, adab adalah tata cara

Penutup

Bismillaah.. sebagai penutup dari presentasi kelompok kami, maka inilah rangkuman dari hasil diskusi kami.

Bahwa mendidik adab dan fitrah haruslah berjalan dengan selaras. Karena keduanya merupakan amanah dan tanggung jawab bagi setiap orang tua.

Mendidik fitrah merupakan bagaimana membangkitkan antusias, ghairah, kecintaam dari dalam, karena semua potensi kebaikan sudah terinstal. Sedangakn mendidik adab ialah bagaimana nilai-nilai kitabullah dan keteladanan-keteladanan yang perlu ditanamkan sehingga dapat memuliakan potensi fitrah.

Tanpa fitrah yang tumbuh paripurna, adab akan sulit ditanamkan. Kalaupun bisa, tentu dengan cara paksaan dan bukan berangkat dari kesadaran dalam diri manusia. Begitu pula tanpa adab, maka fitrah sejatinya akan tumbuh menggeragas tanpa arah dan panduan. Potensi-potensi kebaikan dalam diri seseorang akan tumbuh melantur yang siap menghancurkan diri pribadinya. Salah satunya potensi fitrah seksualitas ini. Apabila tidak dibangun dengan keteladanan adab yang baik maka fitrah seksualitas bisa menyimpang dan berkembang sesat. Nau’udzubillaahi min dzaalik.

Maka dari itu kita sebagai orang tua, memohonlah doa selalu kepada Yang Maha Kuasa agar dimampukan dalam memberikan keteladanan yang baik bagi buah hati sejak usia dini sehingga penyimpangan demi penyimpangan fitrah ini tidak terjadi. Ayah dan ibu bekerjasama dalam membangun keluarga yang beradab. Dimana ayah merupakan sosok yang bisa tegas dan bertanggung jawab, dan ibu merupakan sosok yang mampu dengan lembut berkasih sayang membangkitkan potensi-potensi fitrah, dengan begitu anak diharapkan tumbuh sesuai fitrahnya dengan adab yang mulia. Aamiin aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

 

Advertisements

Bunsay Level 11 Day 2: Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Sesuai Usia Anak

Kelompok 2:

  1. Tia M. Maharani
  2. Yani Indriati
  3. Meutia Madrid
  4. Tutik Sulistyawati
  5. Sufina Asruni

Apa itu Fitrah Seksualitas?

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati (Elly Risman)

Mendidik fitrah seksualitas dengan merawat, membangkitkan, dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak dan merasa sebagaimana lelaki. Juga bagaimana seorang perepmpuan berfikir, bersikap, bertindak dan merasa sebagai seorang perempuan. (Harry Santosa)

Mengapa perlu menumbuhkan fitrah seksualitas?

  • Membuat anak akan mengerti fitrah seksualnya. seperti mengerti bahwa dia terlahir sebagai laki-laki atau perempuan
  • Mengenal peran seksualitas yang ada pada dirinya. sehingga anak bertingkah laku, berbicara, bertindak sesuai fitrahnya
  • Anak yang seksualitasnya berkebang dengan baik akan mempunyai citra diri yang lebih positif dan juga paham cara bersikap dan berhubungan dengan orang lain.
  • Mengajarkan anak untuk mengenali dirinya dari kejahatan seksual.

Jika fitrah seksualitas tidak tumbuh dengan baik?

  • Perempuan tomboy/lelaki “melambai”
  • KDRT
  • LGBT
  • Pornografi
  • Sex Abuse
  • dll

Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki.” (HR Bukhari).

cropBagaimana Caranya?

  • Kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu
  • Ayah memberikan suplai maskulinitas dan Ibu memberikan suplai femininitas yang seimbang
  • Mendidik fitrah sehingga tercapainya peran keayahan bagi anak lelaki dan peran keibuan bagi anak perempuan.WhatsApp Image 2018-05-18 at 13.10.52WhatsApp Image 2018-05-18 at 13.11.09WhatsApp Image 2018-05-18 at 13.11.24WhatsApp Image 2018-05-18 at 13.11.41

Jika fase tsb terlewat bagaimana?

  1. Memohon ampun dan memohon perlindungan untuk anak kita
  2. Memperkuat pemahaman agama dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT
  3. Melakukan tahapan yang terlewati dengan sabar
  4. Menguatkan identitas diri sebagai anak laki-laki atau perempuan
  5. Mengarahkan batasan dalam bergaul dengan sesama jenis atau lawan jenis
  6. Menyaring apa yang dilihat dan dicontoh yang berhubungan dengan LGBT
  7. Jika orangtua dalam pengamatannya kepada anak ada yang dirasa resah dan khawatir, tidak perlu sungkan untuk membawa anak kepada ahlinya (contoh: psikolog anak)

Bunsay Level 11 Day 1 : Pentingnya Peranan Keluarga dalam Menguatkan Fitrah Seksualitas Anak

Kelompok 1:

  1. Indrianita Wenty
  2. Qathrunnada
  3. Wulan agustina
  4. Lafrania Tfk
  5. Popi Rosepti

Apa itu fitrah seksualitas?

Menurut harry Santosa, Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. Dan untuk menguatkan fitnah seksualitas pada anak, sangat dibutuhkan peranan dan ikatan dengan ayah dan ibunya.

Sedangkan menurut lembaga koalisi perempuan, menyebutkan istilah lain yaitu sosialisasi gender. Sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku.

Lalu seberapa penting fitrah seksualitas perlu dibangkitkan?

Kami yakin bahwa kita semua sepakat bahwa menguatkan fitrah seksualitas adalah sangat penting, karena jika fitrah ini tidak dikuatkan sejak kecil, maka dikhawatirkan kedepannya bisa terjadi penyimpangan yang membuat anak mengalami gangguan dalam memahami identitas dirinya, terjadi penyimpangan orientasi seksual, dan masalah terhadap lingkungan sosialnya.

Tantangan yang dihadapi terkait gender

1. Pemahaman orang tua tentang fitrah seksualitas yang masih rendah dan kurang terbentuknya bonding dengan anak.

Hal ini bisa menyebabkan peran gender yang harusnya di edukasi sejak dini tidak tersampaikan sehingga membuat missing link pada anak tentang pemahaman dirinya terkait gendernya sendiri. Padahal memahamkan dan memberikan contoh terkait peran gender ini harusnya menjadi tanggung jawab  para orang tua.

Selain itu para orang tua masih belum terbuka dan malu-malu dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks pada anak padahal pendidikan seksualitas bukan hanya bicara tentang seks semata tapi juga menyangkut hal lain yg lebih luas misalnya tentang peran gender dan anggota tubuh yg perlu dilindungi dari kejahatan seksual.

2. Teknologi yang terus berkembang 

Terutama dalam hal arus informasi yg sangat cepat dan banyak. Jika orang tua tidak memberikan bimbingan dan tidak membersamai anak dalam menyaring informasi maka bisa jadi anak menemukan informasi yang salah terkait peran gender. Apalagi sekarang banyak pemikiran sekuler yang keluar jalur dan membuat fitrah seksualitas menjadi abu2.

3. Kurangnya edukasi tentang penguatan peran gender di lingkungan anak

Bukan saja orang tua yang bertanggung jawab tapi juga lingkungan sekolah, tetangga, lingkungan bermain harusnya bisa bersinergi untuk menguatkan peran seksualitas anak.

day 1_1

day 1_2

Solusinya.

Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding dg anak jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran genderny. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki2 dan perempuan. Ayah bisa mengajak anak laki2nya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan pelan menggunakan jilbab, aurat, cara bersikap  dsb.

Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak. Ayah dan ibu harus sama-sama berperan. Ketika kecil, biasanya anak-anak  lebih dekat dg ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa  belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan  belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah.

Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena seperti banyak quote berkata.. Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan mendapatkan perhatian yang cukup dari ayahnya.. Maka kemungkinan dia tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang dan mencari-cari perhatian dari laki-laki lain yang kadang bisa berdampak negatif bagi dirinya sendiri.

Jadi, itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan dan komunikasi yang baik dg ortu mereka hingga mereka dewasa.

Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak.

Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan  dan  penyuluhan  terkait peran gender pada anak didiknya.

Media edukasi.

Media edukasi yang bisa dipakai orang bisa berupa cerita dari buku bergambar,  nyanyian, dan video edukasi karena anak-anak cenderung tertarik pada sesuatu yang bersifat visual.

Tanya-Jawab

1. Yesi
Terimakasih, atas sajian materi nya kelompok 1, saya ingin bertanya, bagaimana kriteria khusus untuk pilihan media buku bergambar yg di gunakan untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak? adakah referensi yg kelompok 1 rekomendasi kan?

Untuk media buku bergambar, saya pernah membacakan buku anak berjudul “menjadi anak yang berani” dari penulis Watiekideo. Bukunya sebenarnya fokus pada bagaimana anak berani melindungi dirinya sendiri. Namun, disana juga dijelaskan beberapa bagian tentang perbedaan gender. Misalnya kalau ke toilet, ada yg namanya toilet laki2 dan perempuan. Bahwa laki2 dan perempuan itu berbeda dari cara berpakaian..dsb. Mungkin sebagai salah satu rekomendasi, bisa coba bacakan buku tersebut ke anak.

WhatsApp Image 2018-05-17 at 13.47.16

2. ismi suryati

Bagaimana jika ayah bekerja diluar kota. Pulang hanya 1 bulan sekali. Bagaimana menjalin kedekatan dengan anaknya dalam jarak jauh. Agar nantinya tidak terjadi penyimpangan, seperti yg dijelaskan diatas??

Mb ismi, pasti jadi kendala sendiri ya jika anak tidak bertemu langsung setiap hari dengan ayah.. Tapi bukan berarti peran ayah tidak bisa dijalankan. Bagaimana caranya agar sosok ayah tidak “hilang”? Pertama, bisa dengan mengenalkan sosok laki2 terdekat dalam keluarga. Entah itu kakeknya atau omnya. Jadi ibu bisa bekerjasama dengan sosok tersebut untuk membantu mengenalkan identitas dan sosok laki2 pada anak2.

Yg kedua, kita hidup di teknologi yg berkembang pesat. Ajak ayah setiap hari berkomunikasi lewat teknologi yg ada. Bukankah sekarang ada video call, telpon dsb? Bisa manfaatkan itu untuk Merekatkan hubungan antara ayah dan anak.. Jangan sampai jarak yang jauh menjadi kendala membangun bonding, karena yg selalu dekat pun juga tak menjamin bisa terbangun bonding. Yang penting selalu ada waktu berkualitas untuk berbincang dengan anak.

Yang ketiga, setiap ayah pulang, ayah harus memaksimalkan waktunya untuk beraktivitas Bersama keluarga. Entah liburan, merancang aktivitas bermain, berbincang dsb

Menambahkan ya mba @🙂Indrianita Wenty bisa juga dengan menemani anak bermain mobil-mobilan, robot-robotan, mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan sambil kita jelaskan ada teman laki-laki dan teman perempuan, serta berkomunikasi dengan ayahnya lewat video call dan saling bercerita.

3. Marisa

untuk media edukasi bagi anak balita berupa video dan nyanyian, bisakah diberikan link atau referensinya.

Bisa dengan lagu Sentuhan Boleh – Sentuhan Tidak boleh

4. Yani

Izin bertanya, bagimana utk anak yg sudah tdk memiliki Ayah/Ibu sejak kecil ? apa yg harus dilakukan sekitarnya ?
atau bahkan si anak ketika sdh dewasa ? krn bs jd tanpa sadar kebutuhannya anak bonding dgn Ortu sgt kurang

sudah dibahas sedikit di no 2, bisa dikenalkan dengan keluarga terdekat, seperti paman/kakek/nenek/bibinya. supaya anak tidak kehilangan sosok “ayah” dan “ibu” yang penting dalam perkembangannya

Komunikasi Produktif – Materi 1 Kelas Bunda Sayang IIP

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Institut Ibu Profesional

Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif. 

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi. 

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. 

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik. 

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya. 

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati. 

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4

Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN – NHW #9 Matrikulasi IIP Batch #3

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.Read More »

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN – Materi Matrikulasi IIP batch #3 sesi #9

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.Read More »